Pensil Jatuh pun Bisa Jadi Tulisan — Asal Mau Mulai

Ilustrasi: GeminiAI

 

Buat teman-teman yang mau stay di rumah selama liburan ini, ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Diantaranya, belajar menulis. Mumpung liburan, baiknya kita mulai menulis sekarang.

 

Kenapa kita mesti menulis? Aktivitas menulis itu banyak gunanya. Selain bisa menjadi latihan untuk mengorganisasikan pikiran, menulis juga bisa jadi alat curhat, menyembuhkan luka jiwa, bahkan bisa jadi sumber cuan.

 

Buat teman-teman yang mau belajar menulis, berikut ada beberapa tips dari para mentor yang bisa dimanfaatkan

 

Menulis pengalaman sendiri

 
Kata para mentor, buat yang baru mulai belajar menulis, yang paling mudah adalah menulis pengalaman sendiri.
 
Masing-masing kita pasti punya pengalaman pribadi. Nah, pengalaman ini bisa dijadikan bahan tulisan kita.
 
Pengalamannya ga harus yang spektakuler, ga harus pengalaman berlibur ke luar planet, ga harus berbiaya mahal juga. Pengalaman sehari-hari juga bisa dituliskan. Misalnya pertama kali punya adik, pengalaman menyapu halaman (capek, tapi menjaga kebersihan itu penting!), perjalanan naik LRT / MRT, jalan pagi dengan misi memberi makan kucing kampung di sepanjang perjalanan. Pokoknya, banyak, deh!
 
Kata seorang mentor, jika sudah terbiasa berlatih, peristiwa kecil saja sudah bisa jadi bahan tulisan. Contohnya pensil jatuh dari meja ke lantai. Eh, tapi ini cuma contoh dari beliau saja. Ga kebayang bisa jadi tulisan kayak apa, sih… he he he
 
Kalau agak engan mengekspos pengalaman pribadi (karena introvert), bisa juga menulis pengalaman orang lain, misalnya cerita kakek tentang kejadian-kejadian di masa mudanya, saat anabul punya teman – anabul milik tetangga, hobi adik bermain game dan lain-lain.
 
Pada prinsipnya, sih, apa aja bisa ditulis. Ga perlu malu, yang penting mau.
 

Segera memulai

 
Banyak dari kita yang enggan belajar menulis, karena tidak tahu kapan bisa memulai. Kadang merasa belum cukup ilmu. Kadang merasa takut diejek atau dikritik. Kadang entah kenapa merasakan jari-jarinya sangat berat untuk digerakkan.
 
Padahal kata seorang mentor, kalua mau mulai menulis, mulai saja. Sekaranglah waktu yang paling tepat. Bukan besok. Bukan nanti. Bukan juga kapan-kapan. Yang terakhir ini sungguh ga zelas urusannya!
 
Bagaimana memulainya?
 
Dulu ada mentor yang pernah mengajari untuk mulai menulis dari satu kata. Satu kata yang berbeda ditulis setiap hari. Setelah sepekan, ternyata bertambah jadi satu kalimat yang terdiri dari beberapa kata. Setelah dua pekan, sudah berhasil menulis beberapa kalimat yang menjadi satu paragraf. Dengan satu paragraf ini, kita sudah bisa bercerita.
 
Kuncinya: segera memulai dan jangan berhenti di tengah jalan. (Tentu saja. Karena sangat berbahaya. Bisa tertabrak mobil!)
 

Menulis dan Membaca

 
Tips lainnya dari para mentor adalah banyak membaca. Katanya dengan membaca, kosa kata kitab isa bertambah. Juga ada kemungkinan apa yang kita baca bisa memicu ide-ide bagus yang bisa kita jadikan bahan tulisan.

Dengan membaca, kita juga bisa belajar, bagaimana para penulis merangkai kata demi kata menjadi kalimat. Dengan membaca kita juga bisa belajar gaya para penulis dalam menulis. Bagaimana dengan gaya tulisan kita? Untuk bisa menjawab ini, kita mesti banyak berlatih dan banyak menghasilkan tulisan. Dari tulisan-tulisan itu baru akan terlihat gaya menulis kita.

Sepertinya kita udah jauh bicara. Udah sampai gaya menulis. Saatnya kita take action.

 

Yuk, mulai menulis!

 

/Tto


Berita Pilihan

Lebih baru Lebih lama