![]() |
| Ilustrasi: GeminiAI |
Tidak terasa kita sudah masuk ke dalam Bulan Rajab. Bulan Rajab ini memiliki Sejarah dan kedudukan yang Istimewa. Mau tahu lebih banyak? Yuk ikuti kulikan berikut.
Selintas Sejarah Bulan Haram dan Bulan Rajab
Nama
Rajab, asal katanya “Rajaba” artinya mengagungkan. Bulan Rajab adalah bulan
yang diagungkan. Hal ini terjadi sejak zaman sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat
sebagai Nabi dan Rasul.
Dalam
satu tahun ada dua belas bulan. Dari dua belas bulan tersebut, terdapat empat
bulan Haram (suci) yang diagungkan dan disucikan, dan pada bulan-bulan tersebut
diharamkan melakukan peperangan. Di dalam Tafsir At Thabari disebutkan, bahkan,
seandainya pada (salah satu) bulan haram tersebut seseorang menjumpai orang
yang telah membunuh bapaknya, ia tidak boleh melukai orang tersebut.
Bulan-bulan
haram tersebut adalah Rajab Mudharr, dan tiga bulan lain yang berurutan, yaitu
Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, dan Muharram
Bulan
Rajab juga disebut sebagai bulan Munashshil al asinnah yaitu ungkapan ketika
seseorang melepaskan ujung tombak dari tombaknya. Ini merupakan kata kiasan
untuk menghentikan perang atau tidak melakukan peperangan. Hal ini dilakukan
karena menghormati bulan yang mereka lalui saat itu, yaitu bulan Rajab, salah
satu bulan dari empat bulan yang diharamkan untuk berperang. Hal ini disebutkan
dalam Tafsir Al Qurthubi.
Bulan Istimewa
Para
Ulama, diantaranya Al Qodhi Abu
Ya’la rahimahullah mengatakan bahwa yang dinamakan Bulan Haram karena
dua makna.
Pertama,
pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan.
Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
Kedua,
pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan
daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada
saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”
Sedangkan Ibnu Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”
Karena pada bulan-bulan haram itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan
amalan ketaatan, maka para Ulama terdahulu sangat suka untuk melakukan puasa
pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku
sangat senang berpuasa di dalamnya.” Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan
Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan
Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya.
Di
sisi lain, patut diperhatikan peringatan para ulama sebagaimana disebutkan di
dalam Tafsir Al Qurthubi tentang larangan berbuat zalim kepada diri sendiri,
yaitu dengan melakukan perbuatan-perbuatan dosa, karena siapa pun yang
melakukan perbuatan-perbuatan dosa pada bulan-bulan haram ini akan
dilipatgandakan hukumannya.
Bulan Menanam
Abu Bakr Al-Balkhi rahimahullah berkata, “Bulan Rajab
saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadhan
saatnya menuai hasil. Siapa yang tidak menanam di bulan Rajab, lalu tidak
menyiram tanamannya di bulan Sya’ban, maka jangan berharap ia bisa menuai hasil
di bulan Ramadhan.”
Makna perkataan ini sangat dalam. Diantara pemaknaannya adalah
agar kita membiasakan diri untuk melakukan berbagai amal kebaikan di bulan
Rajab, lalu menyuburkannya (makin menggiatkannya) di bulan Sya’ban, sehingga
akhirnya menjadi kebiasaan (otomatis melakukan kebaikan) di bulan Ramadhan.
Adalagi ulama yang memaknai proses menanam, menyiram,
memanen ini dilihat dari segi semangatnya. Orang yang menanam bibit / benih memiliki
semangat dengan penuh harapan agar bibit / benih yang ditanamnya segra tumbuh.
Orang yang menyiram dikatakan memiliki semangat yang lebih tinggi lagi, karena
sudah melihat pucuk-pucuk daun hijau yang menunjukkan tumbuhnya tanaman. Dia
makin bersemangat dalam menyiram tanaman agar tanamannya segera menghasilkan
bunga / buah. Dan Ketika tiba saatnya memanen, semangatnya melonjak tinggi
karena kegembiraan atas hasil panenannya.
Selain itu, bulan Rajab juga menjadi sinyal bagi orang-orang
yang masih memiliki hutang puasa. Ada puasa Ramadhan tahun lalu yang batal
dikerjakan. Maka bulan Rajab menjadi sinyal agar segera menyelesaikan hutang
puasa itu, karena sebentar lagi kita akan memasuki Bulan Ramadhan kembali.
Nah, teman-teman sudah makin siap menjalani bulan Rajab yang
agung ini? Yuk, kita sama-sama mulai menjaga diri – kurangi maksiat, dan
menyemangati diri – perbanyak ibadah.
/Tto
