Kita berdoa, kita menanti, bahkan ada yang sampai meneteskan air mata: “Ya Allah, sampaikan kami ke Ramadhan.”
Lalu Ramadhan pun tiba…
Di awal, masyaAllah… semangat begitu membara. Masjid penuh, tilawah mengalir, sedekah ringan terasa, hati pun berbunga-bunga menyambut bulan penuh rahmat.
Namun waktu berjalan…
Memasuki pertengahan Ramadhan, mulailah terjadi seleksi iman.
Ada yang mulai lelah, mulai berkurang semangatnya, bahkan ada yang perlahan meninggalkan kebiasaan baiknya.
Tapi… masih ada yang bertahan. Mereka terus menjaga ruhiyahnya, walau godaan datang silih berganti.
Lalu masuk ke akhir Ramadhan. Gelombang ujian semakin kuat. Yang dulu semangat, kini mulai goyah. Yang dulu rajin, kini mulai lalai. Satu per satu berguguran…
Hingga akhirnya, hanya sedikit yang benar-benar bertahan. Mereka inilah orang-orang pilihan. Yang terus menghidupkan malam, menjaga hati, dan berlari menuju takwa.
Dan saat Ramadhan benar-benar di ujungnya. Merekalah yang dipilih Allah untuk merasakan manisnya kemenangan iman.
Namun…
Ketika esok Ramadhan berakhir, suasana berubah. Masjid kembali sepi, lantunan Qur’an mulai jarang terdengar. Ada kehampaan yang tak semua orang rasakan.
Hanya sedikit yang benar-benar merasa kehilangan. Merasa sedih karena Ramadhan pergi. Merasa rindu bahkan sebelum ia benar-benar hilang.
Lalu, mari kita bertanya pada diri sendiri…
Di mana posisi kita?. Apakah kita termasuk orang yang kalah?. Yang kehilangan nikmat Ramadhan tanpa bekas?
Ataukah kita termasuk orang yang hatinya menangis. Yang merasa sedih karena berpisah dengan Ramadhan. Yang berharap bisa bertemu kembali dengannya?
Semoga kita bukan sekadar yang “pernah merasakan Ramadhan”. Tapi menjadi hamba yang berubah karena Ramadhan.
Karena sejatinya…
Ramadhan bukan tentang siapa yang paling semangat di awal. Tapi siapa yang bertahan hingga akhir dan keluar sebagai insan bertakwa.
Agung Tazka (Sekum DPC PKS Bekasi Timur)
Renungan Untuk Diri Sendiri
