HUMAS PKS BEKASI TIMUR
Latest Post
Loading...

Satria Hadi Lubis : Hari Libur, Hari Untuk Dakwah

HARI libur sering kali kita maknai sebagai waktu untuk melepas penat. Tidak salah memang. Tubuh memang butuh istirahat, jiwa pun perlu jeda. Namun bagi seorang muslim, libur bukan berarti kosong dari amal. Justru di sanalah kesempatan emas terbuka lebar. Ketika kesibukan dunia sedikit mereda, ruang untuk mendekat kepada Allah menjadi lebih lapang. Salah satunya dengan berdakwah.


Dakwah bukanlah sekadar pilihan bagi orang-orang tertentu. Ia adalah KEWAJIBAN. Allah SWT berfirman :


“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali ‘Imran: 104)


Bahkan Allah menegaskan kemuliaan aktivitas dakwah dengan firman-Nya :


“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim." (QS. Fussilat: 33)


Maka hari libur bukan alasan untuk berhenti menimba pahala, bahkan momentum untuk menambahkannya. Jika hari kerja kita padat, maka hari libur adalah saat terbaik untuk menunaikan kewajiban dakwah ini dengan lebih tenang dan mendalam. 


Apalagi dakwah tidak selalu harus di mimbar. Ia bisa hadir dalam obrolan santai, dalam pesan singkat yang mengingatkan, dalam ajakan shalat, atau dalam menghidupkan majelis ilmu kecil bersama teman dan keluarga. 


Hari libur juga seharusnya menjadi hari untuk belajar Islam. Menghadiri kajian, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, membuka kitab, atau mendengarkan ceramah. Semua itu adalah untuk keselamatan diri sendiri di dunia dan akhirat. Karena sebelum mengajak orang lain, kita harus terus memperbaiki dan menguatkan diri. Rasulullah saw bersabda:


“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)


Bahkan ketika liburan diisi dengan acara keluarga, nilai dakwah tidak boleh hilang. Liburan bukan sekadar jalan-jalan dan bersenang-senang. Ia bisa menjadi sarana menanamkan iman. Ajak keluarga shalat tepat waktu, cari tempat yang mendukung ibadah, sisipkan nasihat dengan penuh kasih, dan jadikan setiap momen sebagai pengingat akan kebesaran Allah. Sebagaimana perintah Allah:


“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)


Dakwah juga berarti membina. Tidak cukup hanya menyampaikan, lalu selesai. Kita butuh tindak lanjut, mendampingi, mengarahkan, dan membersamai saudara-saudara kita. Inilah dakwah yang hidup dan berdampak keberuntungan jangka panjang. Rasulullah saw bersabda:


“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)


Maka jangan biarkan hari liburmu berlalu tanpa makna. Jangan sampai ia hanya diisi dengan kesenangan yang fana, tanpa bekas untuk akhirat. Jadikan hari libur sebagai ladang amal, sebagai waktu untuk berdakwah, belajar, dan membina.


Karena sejatinya, seorang muslim tidak pernah benar-benar “libur” dari ketaatan. Ia hanya berpindah dari satu amal ke amal lainnya. Dan di situlah letak kebahagiaan yang hakiki.

Berita Pilihan

أحدث أقدم