Renungan pelukan hangat seorang ayah
RENUNGAN-ADA pelukan yang hangat, ada yang menenangkan, ada pula yang menyembuhkan. Namun di antara semua pelukan di dunia ini, ada satu pelukan yang sering terlupakan nilainya, pelukan seorang ayah.
Ayah bukan sosok yang pandai berkata-kata. Tidak sering mengucap “aku sayang kamu.” Bahkan terkadang terlihat kaku, jauh, dan dingin. Tapi di balik diamnya, ada cinta yang begitu dalam. Cinta yang tidak banyak bicara, tapi banyak berkorban.
Seorang ayah jarang memeluk anaknya, bukan karena tidak ingin. Tapi karena ia merasa harus kuat. Ia berdiri di garis depan kehidupan, menahan lelah, menelan rasa takut, menyembunyikan tangis, demi memastikan keluarganya tetap tersenyum.
Ia yang pergi pagi-pagi, pulang saat anaknya hampir terlelap. Ia yang memikirkan biaya sekolah, kebutuhan rumah, masa depan anak-anaknya, bahkan saat dirinya sendiri sedang rapuh.
Dan kita... sering tidak sadar. Kita lebih mudah memeluk ibu, mencium tangannya, berbincang panjang dengannya. Tapi kepada ayah? Kita canggung. Kita menjaga jarak. Kita lupa, bahwa di balik punggungnya yang mulai membungkuk, ada harapan yang ia titipkan pada kita.
Sampai suatu hari...
Kita benar-benar memeluknya.Dan saat itu terjadi, kita merasakan sesuatu yang berbeda. Pelukan itu tidak lama, tidak erat seperti ibu. Tapi terasa... berat. Seakan ada beban yang selama ini ia pikul, tiba-tiba berpindah ke dada kita. Ada getaran yang tak bisa dijelaskan. Getaran cinta yang selama ini tersembunyi. Dan mungkin, tanpa kita sadari, itu adalah pelukan yang terakhir.
Betapa banyak orang yang hari ini menangis, bukan karena kehilangan harta, tapi karena kehilangan kesempatan untuk memeluk ayahnya sekali lagi. Mereka ingin kembali ke masa lalu, hanya untuk berkata,
"Ayah, aku sayang padamu."
Dalam Islam, ayah adalah pintu surga. Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua. Namun seringkali kita sibuk mencari cinta di luar sana, sementara cinta paling tulus justru ada di rumah, dalam diam seorang ayah.
Jika ayahmu masih ada... jangan tunggu. Peluk dia hari ini. Cium tangannya. Duduklah sebentar di sampingnya.
Karena bisa jadi, pelukan itu adalah pelukan termahal dalam hidupmu yang tak akan pernah bisa kamu beli kembali, seberapa pun harta yang kamu punya.
Dan jika ayahmu telah tiada...Maka doakanlah dia. Sebut namanya dalam sujudmu. Lanjutkan kebaikan yang dulu ia ajarkan.
Karena cinta seorang ayah...tidak pernah benar-benar pergi.
[/Satria Hadi Lubis]
