🔴 UPDATE
Memuat berita terbaru...

Tak Kenal Lelah, Pejuang Nafkah Kejar Keberkahan

ilustrasi pejuang nafkah siap bekerja

Pejuang Nafkah: Mencari Recehan, Mengejar Keberkahan. Ada orang-orang yang setiap pagi membuka lapak dagangannya dengan harapan sederhana.

Bukan berharap langsung mendapatkan keuntungan jutaan rupiah. Bukan pula mengejar kemewahan. Mereka hanya berharap hari itu ada pembeli yang datang.

Satu bungkus terjual, alhamdulillah.
Dua bungkus terjual, alhamdulillah.
Lima ribu rupiah masuk, disyukuri.
Sepuluh ribu rupiah masuk, kembali diucapkan alhamdulillah.

Begitulah perjuangan sebagian pelaku UMKM. Dari luar mungkin terlihat sederhana. Bahkan terkadang dianggap hanya mencari uang recehan.

Tetapi jangan pernah meremehkan uang recehan yang diperoleh dengan cara halal.
Karena boleh jadi, di situlah letak keberkahannya.

Mereka adalah pejuang nafkah.
Berangkat pagi, menyiapkan dagangan, membawa barang, menunggu pembeli, menawarkan dagangan, menghitung keuntungan, lalu pulang membawa hasil yang mungkin tidak seberapa.

Namun ada sesuatu yang membuat perjuangan mereka menjadi istimewa.
Mereka tidak menjadikan kesibukan mencari nafkah sebagai alasan untuk melupakan Allah SWT.

Ketika pembeli belum datang, mereka membuka Al-Qur'an. Di sela-sela menunggu dagangan, mereka tilawah. Ketika suasana sedang sepi, bukan hanya media sosial yang dibuka, tetapi lembaran Al-Qur'an juga dibaca.

Karena mereka memahami bahwa rezeki bukan hanya datang dari kepandaian berdagang.

Rezeki datang dari Allah SWT.
Maka bagaimana mungkin seseorang sibuk mencari rezeki dari Allah, tetapi justru melupakan Allah?

Dan ketika suara adzan berkumandang, mereka berusaha meninggalkan dagangannya.

  • Sejenak meninggalkan lapak.
  • Sejenak meninggalkan pembeli.
  • Sejenak meninggalkan urusan dunia.
Mereka memenuhi panggilan Rabb-nya.
Sebab mereka percaya, dagangan bisa ditinggalkan sementara, tetapi kewajiban kepada Allah tidak boleh ditinggalkan.

Al-Qur'an memberikan gambaran yang indah: ketika panggilan salat Jumat telah dikumandangkan, jual beli ditinggalkan untuk mengingat Allah; setelah salat selesai, manusia kembali bertebaran mencari karunia-Nya dan tetap banyak mengingat Allah.

Inilah keseimbangan yang sering kita lupakan. Bekerja, tetapi tidak diperbudak oleh pekerjaan. Mencari uang, tetapi tidak menjadikan uang sebagai tujuan hidup.
Mengejar keuntungan, tetapi tidak mengorbankan kewajiban kepada Allah.
Dan yang lebih indah lagi...

Dari hasil dagang yang mungkin hanya sedikit, mereka masih menyisihkan sebagian untuk berinfaq dan bersedekah.
Mungkin bagi orang lain jumlahnya tidak seberapa.

Tetapi di hadapan Allah, yang dinilai bukan semata-mata besarnya nominal. Ada keikhlasan di dalamnya.nAda perjuangan di baliknya.

Ada keyakinan bahwa rezeki yang kita keluarkan di jalan Allah tidak akan membuat kita menjadi miskin.
Mereka juga tetap berusaha hadir dalam kegiatan dakwah..

Tetap menjaga ukhuwah. Tetap mau belajar.
Tetap mengikuti pembinaan. Dan di tengah kesibukan mencari nafkah, mereka berusaha menjalankan kewajibannya dalam UPA, termasuk menunaikan ITB (Iuran Tetap Bulanan) sebagai bagian dari komitmen yang telah disepakati dalam pembinaan.
Bukan karena mereka memiliki uang berlebih.

Justru mungkin karena uang mereka terbatas. Tetapi mereka memahami bahwa perjuangan membutuhkan komitmen.
Mungkin ada yang hanya mendapatkan keuntungan puluhan ribu rupiah dalam sehari.

Namun dari puluhan ribu itu, ada sebagian yang disisihkan untuk keluarga.

Ada yang untuk kebutuhan sehari-hari.
Ada yang untuk infak. Ada yang untuk kewajiban pembinaan. Dan ada yang mungkin tidak pernah diketahui siapa pun selain Allah.
Inilah pejuang nafkah yang sesungguhnya.
Mereka tidak sedang mengejar dunia semata.

Mereka sedang berusaha menjadikan aktivitas dunia sebagai jalan menuju akhirat. Karena hidup seorang Muslim bukan hanya tentang berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan.

Bukan hanya tentang seberapa besar omzet yang dicapai. Bukan hanya tentang seberapa besar rumah yang dimiliki. Tetapi tentang untuk apa semua itu digunakan.

Bagi seorang laki-laki yang memiliki tanggungan, mencari nafkah dengan cara yang halal merupakan bagian penting dari tanggung jawabnya kepada keluarga.
Maka ketika ia bangun pagi dan berangkat mencari rezeki yang halal, sesungguhnya ia sedang menjalankan tanggung jawab.
Ketika ia menolak menipu meskipun bisa mendapatkan keuntungan lebih besar, ia sedang menjaga kehormatan.

Ketika ia meninggalkan dagangan untuk memenuhi panggilan salat, ia sedang menunjukkan bahwa Allah lebih utama daripada keuntungan sesaat. Ketika ia menyisihkan sebagian rezekinya untuk bersedekah, ia sedang belajar bahwa harta hanyalah titipan.

Dan ketika ia tetap hadir dalam pembinaan serta dakwah di tengah kesibukannya mencari nafkah, ia sedang berusah menjaga agar kesibukan dunia tidak membuatnya kehilangan arah.

Karena pada akhirnya, kita semua akan meninggalkan dunia ini. Dagangan akan ditinggalkan. Lapak akan ditinggalkan. Uang akan ditinggalkan. Omzet akan ditinggalkan.
Jabatan akan ditinggalkan. Yang kita bawa hanyalah amal.

Maka jangan pernah merasa rendah hanya karena hari ini kita masih berjualan kecil-kecilan. Jangan malu karena penghasilan kita belum besar. Jangan minder karena dagangan kita masih xsederhana.

Selama yang kita cari adalah rezeki yang halal, selama kita tetap menjaga salat, tetap mengingat Allah, tetap mau berbagi, tetap menjaga ukhuwah, dan tetap berusaha berada di jalan kebaikan...

InsyaAllah, perjuangan kecil itu tidak kecil di hadapan Allah. Sebab bisa jadi...
Uang yang kita anggap recehan, justru menjadi rezeki yang penuh keberkahan.
Dan bisa jadi...

Lapak kecil tempat kita mencari nafkah hari ini, menjadi salah satu saksi bahwa kita pernah berjuang untuk keluarga, berjuang menjaga diri dari yang haram, dan berjuang untuk tetap dekat kepada Allah SWT.

  • Bekerjalah dengan sungguh-sungguh.
  • Bernafkahlah dengan cara yang halal.
  • Berjualanlah dengan jujur.
  • Berinfaklah meskipun sedikit.
  • Datangilah majelis ilmu dan pembinaan.
Dan jangan pernah biarkan kesibukan mencari dunia membuat kita lupa kepada Pemilik dunia. Karena sesungguhnya...
Hidup bukan untuk mencari dunia semata.
Kita hidup untuk beribadah kepada Allah SWT.

Dan mencari nafkah yang halal, ketika diniatkan dengan benar dan dijalankan sesuai tuntunan Allah, dapat menjadi bagian dari perjalanan ibadah itu sendiri.

(Hery A)

REPORTER DAN EDITOR PORTAL BERITA PKS: Hamzah Sidik | Agung Tazka | Toto Abi Ihsan
Lebih baru Lebih lama