🔴 UPDATE
Memuat berita terbaru...

Kapan Kita Menyatakan Kemerdekaan yang Sesunggunya

ilustrasi seorang pria yang mendukung kemerdekaan Palestina

MUHASABAH TARBIYAH - BANYAK orang mengira bahwa kemerdekaan adalah ketika kita bebas melakukan apa saja yang kita inginkan. Padahal, kebebasan tanpa arah justru bisa menjadi perbudakan. Kita mungkin bebas memilih, tetapi diam-diam diperbudak oleh hawa nafsu. Bebas berbicara, tetapi diperbudak oleh penilaian manusia. Bebas bekerja, tetapi diperbudak oleh harta. Bebas menentukan hidup, tetapi diperbudak oleh gengsi dan popularitas.

Karena itu, kemerdekaan yang sesungguhnya bukanlah bebas dari segala sesuatu, tetapi bebas dari penghambaan kepada selain Allah. Itulah kemerdekaan yang lahir dari sikap tauhid.

Tauhid mengajarkan kita bahwa hanya Allah yang layak menjadi Tuhan, tujuan hidup, tempat bergantung dan satu-satunya yang mutlak ditaati. Allah SWT berfirman:

"Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya...”
(QS. Al-Bayyinah: 5)

Ketika seseorang benar-benar bertauhid, ia tidak lagi menjadikan manusia sebagai “tuhan” dalam hidupnya. Ia tidak hidup hanya demi mendapatkan pujian. Tidak hancur karena celaan. Tidak menjilat orang kaya karena mengharap pemberian. Tidak takut kepada manusia melebihi takutnya kepada Allah. Tidak mengorbankan prinsip hanya demi diterima lingkungan. Sebab hatinya telah memiliki satu pusat ketundukan: Allah. 

Tauhid juga membebaskan kita dari perbudakan banyak "tuhan" berupa berbagai hawa nafsu. Sebab orang yang selalu mengikuti keinginannya sebenarnya bukan orang yang merdeka. Ia justru menjadi tawanan keinginannya sendiri.

Ingin dipuji, ia mengejar pujian.
Ingin kaya, ia mengejar harta tanpa batas.
Ingin berkuasa, ia rela mengorbankan apa saja.
Ingin dipandang hebat, ia terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Sedangkan orang yang bertauhid berkata kepada dirinya:
“Aku tidak hidup untuk memenuhi semua keinginanku. Aku hidup untuk memenuhi kehendak Allah.”

Di situlah kemerdekaan sejati dimulai. Dari diatur oleh banyak "tuhan" menjadi hanya diatur oleh satu Tuhan.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah (menyembah) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ironisnya, banyak manusia menolak menjadi hamba Allah, dan malah terjerumus menjadi hamba dari banyak hal, yang membuat ia makin terpenjara dan sulit hidup tenang.

Menjadi hamba uang.
Hamba jabatan.
Hamba popularitas.
Hamba pasangan.
Hamba penilaian manusia.
Hamba hawa nafsu.

Padahal semakin banyak “tuhan” yang kita ikuti, semakin tidak merdeka hidup kita. Semakin tidak tenang dan sulit bahagia hidup kita. Islam dengan ajaran tauhidnya datang untuk membebaskan manusia dari semua itu. Islam datang untuk membuat manusia bahagia dan hatinya tenang karena hanya diatur oleh satu Tuhan.

Laa ilaaha illallah. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Kalimat ini bukan sekadar ucapan di lisan. Ia adalah deklarasi kemerdekaan jiwa. Aku tidak akan menyembah selain Allah. Aku tidak akan menggantungkan harga diriku kepada manusia. Aku tidak akan menjadikan dunia sebagai tujuan tertinggi. Aku tidak akan membiarkan hawa nafsu mengendalikan hidupku. Aku hanya tunduk kepada Allah.

Lalu bagaimana jika seseorang tidak mau menyembah semua Tuhan alias ateis? Maka pada hakikatnya ia sedang menyembah akal dan hawa nafsunya sendiri. Allah Ta'ala berfirman:

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya..." (QS. Al-Jatsiyah: 23).

Maka orang yang bertauhid boleh saja hidupnya sederhana, tetapi hatinya merdeka. Boleh saja tidak terkenal, tetapi ia tidak membutuhkan tepuk tangan manusia. Boleh saja kehilangan harta, tetapi ia tidak merasa miskin. Boleh saja ditolak manusia, tetapi ia tetap tenang selama Allah meridhainya.
Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya.

Bukan ketika kita mampu memiliki segala sesuatu, tetapi ketika tidak ada sesuatu pun selain Allah yang mampu memperbudak hati kita. Maka, jika ingin benar-benar merdeka, jangan hanya bebaskan tubuhmu. Bebaskan hatimu. Bebaskan dari ketakutan kepada selain Allah. Bebaskan dari ketergantungan kepada selain Allah. Bebaskan dari cinta yang berlebihan kepada dunia. Bebaskan dari penghambaan kepada hawa nafsu.

Dan ikatlah hati hanya kepada Allah. Sebab semakin kuat tauhid seseorang, semakin merdeka jiwanya. Bertauhid bukan kehilangan kebebasan. Bertauhid adalah menemukan kemerdekaan yang sesungguhnya.

ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]

REPORTER DAN EDITOR PORTAL BERITA PKS: Hamzah Sidik | Agung Tazka | Toto Abi Ihsan
Lebih baru Lebih lama