🔴 UPDATE
Memuat berita terbaru...

Kita Adalah Seorang Dai Sebelum Menjadi Apapun

seorang dai yang sedang berdakwah

MATERI TARBIYAH - KITA adalah da'i sebelum menjadi apa pun. Sebelum menjadi dosen, guru, pengusaha, pejabat, karyawan, atau mahasiswa. Sebab kita adalah hamba Allah yang memiliki kewajiban untuk berdakwah. Sebab dakwah bukan sekadar profesi para ustadz. Dakwah adalah bagian dari konsekuensi iman.

"Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik..." (QS. An Nahl: 125)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali ‘Imran: 104)

Rasulullah saw juga bersabda: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Bukhari)

Karena itu, jangan merasa bahwa dakwah baru dimulai setelah menjadi alim, setelah mempunyai banyak ilmu agama, setelah memiliki jabatan, kaya, atau memiliki banyak waktu. Dakwah dimulai dari apa yang kita tahu, dari posisi kita berada, dan sesuai kemampuan kita.

Jangan sampai kita asyik bekerja, mengejar karier, membangun bisnis, mengumpulkan harta, dan meningkatkan jabatan, tetapi lupa berdakwah. Allah Ta'ala mengingatkan:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Pekerjaan dan bisnis memang penting. Tetapi bagi seorang muslim, bekerja bukan hanya untuk mendapatkan uang. Ada setidaknya tiga misi yang harus berjalan bersama dalam bekerja atau berbisnis:

Nashrul fikroh — menyebarkan nilai dan pemikiran Islam melalui profesi, akhlak, kejujuran, amanah, dan keteladanan.

Tanmiyatul kafa’ah — meningkatkan kompetensi agar menjadi muslim yang profesional, unggul, dan semakin banyak memberikan manfaat.

Kasbul ma’isyah — mencari penghidupan yang halal untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga serta memperkuat kemandirian ekonomi.

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah...” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Jadi, kita bekerja bukan untuk meninggalkan dakwah. Kita bekerja dengan misi berdakwah.
  • Kita berbisnis dengan misi berdakwah.
  • Kita belajar dengan misi berdakwah.
  • Kita memimpin dengan misi berdakwah.
  • Kita menjadi profesional dengan misi berdakwah.
Dua misi lainnya, yaitu tanmiyatul kafa’ah dan kasbul ma’isyah, justru dalam rangka agar dakwah kita bukan sekedar retorika, tapi lebih efektif, karena disertai keteladanan dan kemandirian.

Dakwah pun jangan hanya dilakukan secara sporadis dan sendirian. Dakwah yang efektif membutuhkan keteraturan, pembagian peran, kaderisasi, pembinaan, dan kerja bersama.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff: 4)

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Karena itu, mari kita menjadi da'i sebelum menjadi apa pun (nahnu du'at qobla kulli sya'i). Da'i yang terorganisir, terarah, dan berkelanjutan. Bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu bekerja sama, membina, mengembangkan kompetensi, dan memberikan solusi bagi umat.

Mungkin kita bukan ustadz. Tetapi kita bisa menjadi da'i (orang yang mengajak) di kantor, di kampus, di pasar, di dunia bisnis, di rumah, di media sosial dan di mana pun Allah menempatkan kita.

  • Kita bekerja, tetapi kita tidak lupa berdakwah.
  • Kita ingin sukses, tetapi kita tidak kehilangan misi.
  • Kita ingin kaya, tetapi kekayaan menjadi sarana kebaikan.
  • Kita ingin profesional, tetapi profesionalitas menjadi bagian dari dakwah itu sendiri.
Maka jangan lupa untuk berdakwah dalam setiap peran kita. Kita (semestinya) adalah da'i sebelum menjadi apa pun.

Nahnu du'at qobla kulli sya'i.

ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]

REPORTER DAN EDITOR PORTAL BERITA PKS: Hamzah Sidik | Agung Tazka | Toto Abi Ihsan
Lebih baru Lebih lama