MATERI TARBIYAH - PERNAHKAH Anda duduk di sebuah majelis ta’lim, lalu hati terasa lebih tenang?. Padahal tidak ada kemewahan di sana. Hanya ada orang-orang yang duduk bersama, membaca ayat Allah, mempelajari sunnah Rasulullah saw, mendengarkan nasihat, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Namun setelah keluar dari majelis itu, hati terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih tenang. Lebih dekat kepada Allah.
Itulah taman surga.
Rasulullah saw bersabda: “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah.” Para sahabat bertanya, “Apa taman-taman surga itu?” Beliau saw menjawab: “Halaqah-halaqah dzikir.” (HR. Tirmidzi)
Ada beberapa alasan mengapa majelis ta’lim atau halaqoh layak disebut sebagai taman surga:
1. Karena di dalamnya hati disirami dengan ilmu dan dzikir.
Tubuh membutuhkan air agar tidak kering. Begitu pula hati. Hati membutuhkan Al-Qur’an, ilmu, nasihat dan dzikir agar tidak kering oleh kesibukan dunia.
Kita setiap hari sibuk dengan pekerjaan, uang, target dan berbagai urusan kehidupan. Tanpa terasa, hati pun lelah. Majelis ta’lim menjadi tempat untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan kembali mengingat Allah.
Tubuh membutuhkan air agar tidak kering. Begitu pula hati. Hati membutuhkan Al-Qur’an, ilmu, nasihat dan dzikir agar tidak kering oleh kesibukan dunia.
Kita setiap hari sibuk dengan pekerjaan, uang, target dan berbagai urusan kehidupan. Tanpa terasa, hati pun lelah. Majelis ta’lim menjadi tempat untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan kembali mengingat Allah.
2. Karena di dalamnya kita duduk bersama orang-orang yang mengingat Allah.
Manusia mudah terpengaruh oleh lingkungan. Ketika kita berada bersama orang-orang yang mencintai ilmu dan kebaikan, kita pun terdorong untuk mencintai ilmu dan kebaikan. Ketika iman kita melemah, ada yang mengingatkan. Ketika kita lalai, ada yang menasihati. Ketika kita hampir menyerah, ada yang menyemangati. Majelis ta’lim menjadi tempat kita saling menguatkan untuk tetap berada di jalan Allah.
3. Karena di dalamnya kita mendapatkan ilmu yang membimbing kehidupan.
Majelis ta’lim bukan sekadar tempat mendengarkan ceramah. Di sana kita belajar bagaimana menjadi hamba Allah. Kita belajar tentang shalat, akhlak, keluarga, muamalah, kesabaran, syukur, dosa, taubat, kematian hingga kehidupan akhirat. Semua ilmu itu akan menerangi jalan hidup kita.
4. Karena satu nasihat di dalamnya bisa menjadi sebab perubahan hidup kita.
Tidak semua manfaat majelis ta’lim langsung terlihat. Bisa jadi kita hanya membawa pulang satu ayat. Satu hadis. Satu nasihat. Tetapi siapa tahu, satu ayat itu mengubah cara kita memandang kehidupan.
Satu hadis membuat kita meninggalkan sebuah dosa. Satu nasihat membuat kita kembali kepada Allah. Kita mungkin lupa apa yang pernah kita dengar, tetapi Allah tidak pernah melupakan amal yang kita lakukan karena ilmu tersebut.
5. Karena langkah menuju majelis ta’lim adalah langkah menuju kebaikan.
Ketika kita meninggalkan rumah untuk mencari ilmu karena Allah, sesungguhnya kita sedang memilih akhirat di tengah kesibukan dunia.
Kita bisa saja menghabiskan waktu untuk hiburan, percakapan yang tidak bermanfaat, atau sekadar scrolling tanpa tujuan. Tetapi kita memilih hadir di majelis ilmu. Memilih mendengarkan ayat-ayat Allah. Memilih mengingat kematian. Memilih mempersiapkan kehidupan akhirat. Bukankah itu sebuah pilihan yang sangat berharga?
6. Karena majelis ta’lim membuat kita tidak merasa sendirian dalam perjalanan menuju Allah.
Karena ada saudara yang mengingatkan. Ada guru yang membimbing. Ada teman yang menguatkan. Ada lingkungan yang mendorong kita untuk terus memperbaiki diri. Sebab istiqamah sendirian itu berat. Kita membutuhkan orang-orang yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.
- Maka jangan remehkan majelis ta’lim.
- Jangan menunggu hati tenang baru datang.
- Justru datanglah karena hati sedang tidak tenang.
- Jangan menunggu iman kuat baru belajar.
- Justru belajarlah agar iman semakin kuat.
- Jangan menunggu menjadi baik baru hadir.
- Hadirlah agar kita terus belajar menjadi baik.
"Semoga Allah memberikan kita hidayah untuk terus mencintai majelis ta’lim. Istiqomah mendatanginya, mengamalkan ilmunya, dan memgumpulkan kita bersama orang-orang sholih di surga-Nya."
Catatan :
Majelis ta'lim disebut juga dengan : pengajian, halaqoh, majelis ilmu, tarbiyah, liqo', mentoring, dan lain-lain. Pesertanya juga beragam, ribuan sampai hanya beberapa orang.
ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]
