![]() |
| Ilustrasi: GeminiAI |
WarBeT – Warga Bekasi Timur-, yang sudah kembali sibuk
dengan aktivitas harian, apakah masih ingat dengan kata “Ghibah”?.
Kata ini memang berasal dari Bahasa Arab, tapi sudah sering
disebutkan jadi seolah sudah berterima menjadi kata serapan dalam Bahasa Indonesia
Yuk kita kulik sedikit tentang Ghibah ini untuk sekedar merefresh
ingatan kita agar aktivitas harian kita bisa lebih terarah.
Ghibah dalam Hadits Nabi SAW
Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh
Abu Hurairah r.a. disebutkan bahwa Nabi SAW mengatakan bahwa Gibah adalah “Engkau
menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.”
(HR Imam Muslim)
Kalau kita ukur ke diri sendiri, tentunya kita juga tidak
suka bila ada informasi tentang aib atau kekurangan kita disebarluaskan di Masyarakat.
Apalagi biasanya itu dilakukan di luar pengetahuan kita!
Menurut Imam An Nawawi dalam Al Adzkar, ghibah ini bisa
dilakukan dalam berbagai bentuk. Ada yang dalam bentuk lisan, tulisan maupun
isyarat-isyarat seperti mata, tangan, Gerakan kepala dan sebagainya.
Bahaya bagi Diri dan Masyarakat
Ghibah adalah suatu perbuatan yang diharamkan, oleh
karenanya bagi pribadi ghibah ini Adalah sesuatu yang buruk karena akan
mengakibatkan timbulnya dosa.
Bagi Masyarakat, ghibah ini menjadi permasalahan tersendiri
karena bisa menimbulkan disharmoni, diantara anggota masyarakat bisa timbul ketidaksukaan,
ketidakpercayaan dan pada akhirnya bisa berujung pada konflik terbuka.
Parahnya lagi, ghibah nampaknya menjadi kebiasaan di dalam
sebagian masyarakat. Imam An Nawawi mengatakan “Ghibah adalah sesuatu yang amat
jelek, namun tersebar dikhalayak ramai.”
Keburukan ghibah ini sebenarnya sudah jelas, tapi ada saja
orang yang tidak peduli, bahkan ada yang
menganggapnya sebagai “pelumas” dalam pergaulan di Masyarakat. Dengan berghibah
mereka merasa mendapat tempat di lingkarannya.
Sungguh hal itu menjadi pertanda bahaya bagi keselamatan Masyarakat,
karena kesukaan atau kebiasaan berghibah itu sama dengan menormalisasikan
perbuatan yang diharamkan agama.
Tips Praktis Hindari Ghibah
Kare ghibah ini berbahaya, patutlah ita berusaha menjaga
diri agar tida larut dalam kebiasaan berghibah. Beberapa trik berikut mungkin
bisa dipraktikkan.
Jaga mata, jaga telinga, jaga lisan dan perbuatan
Trik yang pertama tentu saja untuk menjadi selalu awas
(aware) terhadap apa yang akan kita katakan atau lakukan, khususnya bila
berkaitan dengan orang lain. “Berfikir sebelum bicara atau bertindak”, haruslah
menjadi sikap hidup, bukan semboyan belaka. Berfikir bukan sekedar menimbang,
tapi juga mengerem tindakan-tindakan yang bisa dikategorikan sebagai ghibah.
Jaga mata dan telinga juga perlu dilakukan agar tidak ikut
menyaksikan atau mendengarkan ghibah di sekitar kita. Karena dikhawatirkan kita
akan terseret arus berghibah tanpa kita sadari.
Berkata yang Baik atau Diam
Salah satu ajaran dalam Islam yang relevan dengan menjaga
diri dari larangan berghibah adalah ajaran: “Berkatalah yang baik atau diam”.
Dalam peribahasa, kita mengenal kalimat “Mulutmu, Harimaumu”,
yang menunjukkan betapa kata-kata yang kita keluarkan dari lisan kita bisa membahayakan
kehidupan kita, dunia dan akhirat. Oleh karena itu, ajaran untuk memilih
kata-kata sebelum mengucapkannya adalah ajaran terbaik: Berkata yang baik-baik
saja. Atau jika tidak mampu berkata yang baik, hendaknya diam – jangan berkata-kata.
Banyakkan Dzikir
Ini ibarat membuat sebuah gelas yang berisi air kotor
menjadi terisi air bersih. Caranya dengan terus menerus menuangkan air bersih
ke dalam gelas tersebut. Perlahan-lahan, air kotor akan terdesak keluar hingga
akhirnya hanya air bersih yang tersisa di gelas.
Kekotoran di dalam diri kita, perlu diganti dengan
kebersihan dan kesucian. Salah satu caranya adalah dengan melakukan dzikir di
setiap waktu. Ini berarti berusaha memenuhi jiwa kita dengan kebaikan-kebaikan.
Cari Circle yang Positif
Teman sangat berpengaruh terhadap kualitas diri kita.
Lingkungan pertemanan yang baik akan menjadi tambahan energi positif yang
mendorong kita untuk terus melakukan kebaikan. Sebaliknya lingkungan pertemanan
yang buruk, akan dapat mendorong kita melakukan aktivitas-aktivitas yang buruk
pula.
Oleh karenanya, sangat penting bagi kita memilih lingkunan
pertemanan yang selalu mendukung aktivitas kebaikan yang kita lakukan. Ini
circle yang positif. Jika kita sudah mendapatkannya, peliharalah dan jangan
dilepaskan!
Semoga di awal tahun 2026 ini kita bisa bertambah baik diantaranya
dengan menjauhi ghibah.
Bismillah…
/Tto
