Merasa Tidak Mampu? Bisa Jadi Itu Hanya Ilusi Keterbatasan Diri

 

Ilustrasi: GeminiAI

WarBeT – Warga Bekasi Timur-, apakah sering batal melangkah – beraktivitas – karena merasa tidak punya kemampuan?

 

Manusia memang memiliki beberapa keterbatasan, baik secara fisik, ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman maupun keterbatasan-keterbatasan lainnya. Namun perlu juga dipertanyakan kepada diri masing-masing, apakah keterbatasan itu nyata atau hanya ilusi belaka? Bahkan bila itu nyata, apakah kita cukup bersabar menerimanya begitu saja?

 

WatBeT, di awal 2026 ini mari kita kulik sedikit dari “keterbatasan” kita ini, mudah-mudahan bisa mendapatkan cara mengurangi bahkan menanggulanginya.

 

Ketakutan dan kekhawatiran

 

Yang pertama perlu kita teliti lebih dalam Adalah perasaan keterbatasan kita. Apakah benar kita tidak punya kemampuan ataukah hanya ketakuan dan kekhawatiran kita saja?

 

Ada orang yang merasa tidak bisa berenang, misalnya. Begitu melihat air di kolam renang, dia sudah merasa khawatir terjatuh ke dalamnya, takut tenggelam dan sebagainya. Padahal renang adalah salah satu olahraga yang dianjurkan dalam Islam, sehingga tentunya dia dapat dipelajari.

 

Perlu diketahui juga bahwa tubuh manusia memiliki daya apung, sehingga bila ditambah dengan teknik yang benar, kita bisa mengapung di air. Tidak perlu takut tenggelam!

 

Makanya kita perlu waspada, jangan-jangan keterbatasan kita, seperti merasa tidak bisa berenang ini, sebenarnya hanyalah ketakutan dan kekhawatiran yang tidak berdasar. Jika demikian, kita perlu menyingkirkan rasa takut dan khawatir ini!

 

Terlalu Peduli pada Kata-kata Orang Lain

 

Ada lagi orang yang terlalu peduli pada kata-kata orang lain. Apa pun perkataan orang lain dianggapnya sebagai suatu hukum yang tidak dapat diganggu gugat. Misalnya ada orang yang melarang kita ikut latihan olahraga lari, katanya karena tubuh kita lemah.

 

Jika kita menerima begitu saja kata-kata orang lain tersebut, kita menjadi terbatasi. Seolah-olah kita memiliki keterbatasan. Padahal tidak harus demikian.

 

Jika pun tubuh kita saat ini lemah, dengan dengan diet yang tepat, istirahat cukup dan berlatih olahraga secara teratur dan terukur, Insya Allah tubuh kita akan makin kuat, sehat dan bugar.

 

Maka, kata-kata orang lain memang perlu didengarkan, tapi tidak harus dijadikan perintah tertinggi yang harus selalu kita patuhi. Justru kita harus bisa menilainya dengan tepat. Bisa jadi kata-kata itu sebenarnya nasihat atau peringatan buat kita agar lebih memperhatikan kondisi kita. Atau bisa juga itu merupakan “reverse psychology”: mendorong kita melakukan sesuatu dengan menyatakan hal yang sebaliknya. Misalnya kata-kata “jangan berolahraga” sebenarnya mengandung anjuran “ayo dong, olahraga yang rutin”!

 

Tidak Menyadari Potensi Diri

 

Dua hal di atas juga berhubungan dengan ketidakmampuan kita menyadari potensi diri kita yang masih tersembunyi. Memang sih, agak sulit melihat hal-hal yang tersembunyi. Apalagi itu adalah hal yang ada di dalam diri kita.

 

Tetapi sulit bukanlah “tidak mungkin”. Maka, kita perlu menguji dan melatih diri kita agar potensi-potensi diri yang tersembunyi itu bisa muncul ke permukaan.

 

Di sini kita perlu jujur dan terbuka kepada diri sendiri serta mampu membangkitkan motivasi dari dalam diri agar mau berusaha membangkitkan potensi diri kita. Kita bisa berikan tantangan-tantangan kecil, misalnya mulai menulis satu kata setiap hari, lalu ditingkatkan menjadi satu paragraf dan seterusnya. Hal ini bisa membangkitkan dan membuktikan kemampuan kita dalam hal menulis. Prinsip ini bisa diterapkan kepada hal-hal lain untuk membangkitkan potensi diri kita yang masih terpendam.

 

Yuk, Berani Mencoba

 

Last but not least, Adalah keharusan bagi kita untuk berani mencoba dan tidak takut gagal. Maksudnya, bila pun kita gagal dalam upaya kita mengalahkan ketakutan, memilah perkataan orang dan membangkitkan potensi terpendam kita, setidaknya kita telah berusaha dan kitab isa berusaha di waktu lain atau dalam bidang lain.

 

Pokoknya, kita harus berani terus mencoba demi perbaikan diri kita dan masa depan yang lebih baik.

 

Kuy. Bismillah.


/Tto

Berita Pilihan

أحدث أقدم