HUMAS PKS BEKASI TIMUR

Dari Perjuangan Sunyi, Kini Menginspirasi Ribuan: Perjalanan Dakwah KH. Rifki Hadi

Di sudut Bekasi Timur yang dulu masih sederhana, di antara jalanan aspal yang bergelombang, rumah-rumah yang masih sederhana, dan masyarakat yang masih mencari arah, seorang lelaki memulai langkah yang tidak banyak orang berani memikulnya.


Namanya KH. Rifqi Hadi.

Lahir di Serang, 1 Mei 1954, beliau bukan sosok yang datang dengan gemuruh. Wajahnya tenang. Tutur katanya ringan, bahkan sering diselingi humor. Tapi di balik itu, ada tekad yang tidak mudah digoyahkan—tekad untuk menanam benih dakwah di tanah yang belum sepenuhnya siap menerimanya.


Awal yang Sunyi (1988)

Tahun 1988 menjadi titik mula. Di Perumnas 3 Aren Jaya, Bekasi Timur, beliau memulai sesuatu yang kecil—bahkan mungkin terlihat remeh bagi sebagian orang: sebuah Majlis Ta’lim bernama Nurus Syamsi.


Anggotanya?

Tidak banyak.

Tidak meriah.


Namun perlahan, lingkaran itu meluas. Dari Aren Jaya, menjalar ke Duren Jaya, Margahayu, hingga Bekasi Jaya. Empat kelurahan menjadi saksi bagaimana sebuah majelis kecil mulai menyalakan cahaya.


Tapi jalan itu tidak lapang.

Dakwah di tengah ketidaksiapan. Beliau pernah berkata, rintangan dakwah saat itu datang dari dua arah:


Internal.

Umat sendiri belum memahami Islam dengan baik. Mengajak mereka bukan sekadar menyampaikan, tapi mengurai kebingungan, melawan kebiasaan lama, dan menghadapi sikap acuh tak acuh.


Eksternal.

Gerakan misionaris begitu gencar. Fasilitas sosial dan fasilitas umum mulai dilirik untuk dijadikan pusat aktivitas mereka.


Di tengah kondisi itu, dakwah bukan hanya soal ceramah. Tapi soal bertahan. Tentang tetap datang walau yang hadir sedikit. Tentang tetap mengajak walau sering ditolak. Tentang tetap tersenyum walau hati kadang terasa sepi.


Luka yang Tidak Terlihat

Pengorbanan terbesar beliau bukan pada harta. Bukan pula pada waktu—meski itu juga banyak tercurah.


Tapi pada perasaan. Bayangkan mengajak seseorang kepada kebaikan, lalu tidak mendapat jawaban. Tidak ditolak secara terang-terangan, tapi juga tidak diterima.


Sunyi, dan itu terjadi berulang kali.


Namun beliau tidak berhenti. Karena dalam hatinya tertanam sabda Rasulullah ï·º:


“Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)


Hadis itu bukan sekadar hafalan. Itu menjadi bahan bakar. Belajar dari Para Nabi, dalam setiap kesulitan, beliau tidak melihat ke samping—tapi melihat ke atas, ke sejarah para nabi.


Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun. Jika dibandingkan dengan itu, apa arti lelah beberapa tahun?. Apa arti penolakan beberapa kali?


Maka beliau terus berjalan. Pelan, tapi pasti dari Majelis ke Gerakan


Waktu berlalu, dakwah yang dulu hanya berupa lingkaran kecil mulai menemukan bentuk yang lebih luas. Hingga datanglah tahun 1998—tahun perubahan besar di negeri ini.


Di tengah gelombang reformasi, lahirlah sebuah kendaraan baru bagi dakwah: Partai Keadilan, yang dideklarasikan di Masjid Al-Azhar, Jakarta, pada 20 Juli 1998.


Dan di Bekasi Timur, amanah itu jatuh kepada beliau. Ketua DPC Bekasi Timur. Beban baru, tanggung jawab yang lebih luas, tapi ruhnya tetap sama: dakwah.


Bersama para tokoh lain seperti Ust. Nur Supriyanto (Ketua DPD saat itu) dan Ust. TB. Sunmanjaya Rukmandis (Ketua DPW), beliau melanjutkan perjuangan—bukan lagi hanya di majelis, tapi juga dalam struktur yang lebih besar.


Menjadi Magnet Dakwah

Hari ini, di usia 72 tahun, beliau tidak hanya dikenal sebagai perintis. Beliau adalah magnet. Orang-orang datang bukan hanya untuk mendengar, tapi untuk merasakan—bagaimana keteguhan itu dibangun, bagaimana kesabaran itu dijaga, bagaimana dakwah itu dijalani tanpa lelah.


Karena kisah beliau bukan tentang hasil instan. Tapi tentang kesetiaan pada proses, tentang tetap menanam, meski belum tentu melihat panennya.


Pesan yang tersisa, dari Bekasi Timur, dari majelis kecil bernama Nurus Syamsi, dari langkah yang dimulai sejak 1988— ada satu pesan yang terus hidup:


"Dakwah bukan tentang cepat atau lambat. Tapi tentang bertahan atau tidak."


Dan KH. Rifqi Hadi telah membuktikan, bahwa mereka yang bertahan, pada akhirnya akan menjadi jalan bagi lahirnya generasi berikutnya.


Bersambung part 2...(Klik Episode Berikutnya)

Berita Pilihan

Lebih baru Lebih lama