HUMAS PKS BEKASI TIMUR

Dari Mimbar ke Kursi Dewan: KH. Rifqi Hadi, Saat Dakwah Menjadi Panglima

Langkah itu tidak berhenti di majelis. Justru, setelah bertahun-tahun menanam dalam diam, Allah membuka jalan yang lebih luas bagi KH. Rifqi Hadi, jalan yang tidak hanya menyentuh hati, tapi juga menyentuh kebijakan.


Ketika Dakwah Masuk ke Ruang Kekuasaan (2004–2009)

Tahun 2004, beliau diamanahi sebagai Anggota DPRD Dapil 1 Bekasi Timur. Bagi sebagian orang, ini adalah puncak. Tapi bagi beliau ini hanyalah medan dakwah yang berbeda. Bersama sahabatnya, Muhammad Soleh, beliau memasuki ruang-ruang rapat, meja-meja keputusan, dan hiruk pikuk politik yang jauh dari suasana hangat majelis ta’lim.


Namun satu hal tidak berubah: hatinya tetap seorang dai. Ia tetap hidup sederhana. Tidak silau jabatan, bahkan sering berkata dalam hati, apa yang ia lakukan masih belum maksimal.


Tapi diam-diam, jejak itu mulai terasa. Aspirasi masyarakat dan kader mulai terjaga. Jalan-jalan yang dulu rusak mulai dibetonisasi. Bangunan-bangunan mulai berdiri lebih layak.


Bukan proyek besar yang ingin ia banggakan, tapi manfaat kecil yang nyata bagi umat.


Dakwah Tetap Jadi Panglima

Bagi KH. Rifqi Hadi, jabatan hanyalah alat, dakwah adalah panglima, dakwah adalah nafas hidupnya.


Di tengah kesibukan sebagai anggota dewan dengan agenda rapat, kunjungan, agenda yang tak ada habisnya, beliau tetap membina sekitar 5 kelompok.


Setiap kelompok berisi kurang lebih 10 orang. Bayangkan, di saat orang lain sibuk menjaga posisi, beliau justru sibuk menjaga manusia, karena bagi beliau, membina itu bukan sekadar mengajar.


Mengajar itu menyampaikan, tapi membina adalah menyentuh jiwa dan itu jauh lebih sulit.


Seni yang Tidak Semua Orang Bertahan

Beliau sering mengatakan, merekrut dan membina itu punya “seni tersendiri.”

Seni dalam kesabaran.

Seni dalam memahami karakter.

Seni dalam bertahan saat hasil belum terlihat.


Ada kepuasan yang tidak bisa dibeli, ketika satu orang berubah, itu seperti melihat cahaya kecil yang kelak akan menerangi banyak orang lain, dan di situlah beliau menemukan kebahagiaan.


Murobbi yang Hadir, Bukan Sekadar Mengajar


Namun jalan itu tidak mudah. Menjadi seorang murobbi di tengah kesibukan sebagai anggota dewan adalah ujian tersendiri.


Beliau paham satu hal penting: "Seorang murobbi tidak cukup hanya hadir di liqo". Karena liqo/UPA hanyalah pertemuan singkat, tidak cukup untuk benar-benar mengenal hati seseorang.


Maka beliau melakukan sesuatu yang jarang:

  • Ia menyempatkan diri di luar waktu resmi.
  • Ngobrol santai.
  • Mendengar cerita.
  • Masuk ke kehidupan binaannya.

Karena baginya, kegagalan terbesar seorang murobbi adalah, tidak mengenal orang yang ia bina.


Buah dari Kesabaran Panjang

Hari ini, waktu telah berjalan jauh. KH. Rifqi Hadi mungkin tidak lagi di kursi dewan. Namun dakwahnya justru semakin hidup. Kini beliau masih aktif membina 4 kelompok, dengan usia yang beragam.


Dan yang lebih mengharukan, banyak dari binaannya telah tumbuh menjadi murobbi. Mereka membina generasi berikutnya. Melanjutkan estafet yang dulu dimulai dari majelis kecil di Aren Jaya. Seperti gelombang yang terus membesar tanpa henti.


Sebuah Lelucon yang Penuh Makna

Di kalangan kader Bekasi Timur, ada satu kalimat yang sering terdengar setengah bercanda, tapi penuh makna:


“Semua di antara kita pernah dibina oleh beliau. Kalau belum, berarti masih kader baru atau junior”


Orang tertawa saat mendengarnya. Tapi di balik tawa itu ada pengakuan. Bahwa jejak beliau tidak hanya luas tapi dalam.


Warisan yang Tak Terlihat

KH. Rifqi Hadi mungkin tidak meninggalkan gedung megah. Tidak pula kekayaan melimpah. Tapi beliau meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga: "manusia-manusia yang hidup dengan dakwah."


Dan selama mereka masih bergerak, selama mereka masih membina maka sejatinya, perjuangan KH. Rifqi Hadi tidak pernah berhenti.


Bersambung Part 3...(Klik Episode Sebelumnya)

Berita Pilihan

Lebih baru Lebih lama