PENDIDIKAN POLITIK-Di berbagai kesempatan, kita sering mendengar kalimat seperti, "Saya tidak suka politik", "Politik itu kotor", atau "Percuma ikut politik, tidak akan mengubah apa-apa."
Kalimat-kalimat tersebut banyak diucapkan oleh generasi muda. Fenomena ini menjadi perhatian serius karena anak muda sejatinya adalah pemilik masa depan bangsa. Ketika mereka menjauh dari politik, maka ruang-ruang pengambilan keputusan akan semakin didominasi oleh segelintir pihak.
Namun, benarkah anak muda saat ini apatis terhadap politik?
Faktanya tidak sesederhana itu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z sebenarnya tetap peduli terhadap isu-isu publik, tetapi mereka cenderung mengekspresikan partisipasinya melalui media sosial, petisi digital, kampanye isu lingkungan, pendidikan, hingga aksi kemanusiaan. Mereka lebih aktif di ruang digital dibandingkan melalui jalur politik formal.
Politik Terlalu Jauh dari Kehidupan Mereka
Salah satu alasan utama anak muda menjauh dari politik adalah karena mereka merasa politik hanya urusan elite.
Mereka melihat perdebatan politik yang penuh konflik, saling serang, dan terkadang jauh dari persoalan yang mereka hadapi sehari-hari seperti lapangan kerja, pendidikan, biaya hidup, dan masa depan keluarga. Penelitian menunjukkan banyak anak muda menganggap politik sebagai dunia yang eksklusif dan tidak dekat dengan realitas mereka.
Padahal sejatinya politik adalah tentang mengatur kehidupan bersama.
Harga kebutuhan pokok, kualitas pendidikan, pembangunan jalan, pelayanan kesehatan, hingga kesempatan kerja semuanya dipengaruhi oleh kebijakan politik.
Ketika seseorang berkata tidak peduli politik, sesungguhnya ia tetap akan merasakan dampak dari keputusan politik.
Krisis Kepercayaan Menjadi Tantangan
Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan berbagai konflik elite yang sering muncul di media turut memengaruhi pandangan generasi muda terhadap politik.
Sejumlah survei menunjukkan tingkat kepercayaan anak muda terhadap lembaga politik masih menjadi tantangan yang perlu diperbaiki.
Akibatnya, sebagian memilih menjauh daripada terlibat. Padahal jika orang-orang baik memilih menjauh, maka ruang perbaikan justru akan semakin sempit.
Islam Mengajarkan Kepedulian terhadap Urusan Umat
Sebagai seorang muslim, kepedulian terhadap masyarakat bukanlah pilihan, melainkan bagian dari tanggung jawab keimanan.
Rasulullah ï·º bersabda:
"Barang siapa tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka."
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh hidup hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia harus peduli terhadap kondisi masyarakat, lingkungan, dan bangsanya.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, kepedulian itu dapat diwujudkan melalui berbagai cara, termasuk berpartisipasi dalam proses demokrasi, mengawasi kebijakan publik, serta ikut menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Anak Muda Bukan Apatis, Mereka Sedang Mencari Keteladanan
Yang menarik, banyak penelitian justru menunjukkan bahwa Generasi Z memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Mereka aktif dalam gerakan kemanusiaan, lingkungan, pendidikan, dan berbagai kampanye sosial. Mereka ingin melihat perubahan yang nyata, bukan sekadar janji dan slogan.
Artinya, masalahnya bukan karena anak muda tidak peduli. Mereka hanya membutuhkan contoh yang baik. Mereka membutuhkan pemimpin yang jujur.
Mereka membutuhkan politik yang menghadirkan solusi. Mereka membutuhkan tokoh yang bekerja, bukan sekadar berbicara.
Saatnya Anak Muda Mengambil Peran
Indonesia tidak akan berubah hanya dengan keluhan di media sosial. Perubahan membutuhkan keterlibatan. Tidak semua orang harus menjadi anggota partai politik. Tidak semua orang harus menjadi pejabat.
Tetapi setiap anak muda dapat mengambil peran sesuai kapasitasnya:
- Aktif dalam kegiatan sosial.
- Menjadi relawan kemanusiaan.
- Mengawasi kebijakan publik.
- Menyuarakan aspirasi masyarakat.
- Mengedukasi lingkungan sekitar.
- Menjadi teladan dalam kejujuran dan pelayanan.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini mengingatkan bahwa perubahan tidak lahir dari sikap pasif. Perubahan lahir dari keberanian untuk mengambil peran dan bertanggung jawab.
Penutup
Politik bukan sekadar tentang pemilu, jabatan, atau perebutan kekuasaan.
Politik adalah tentang bagaimana menghadirkan kebaikan bagi masyarakat.
Jika anak-anak muda yang jujur, cerdas, dan peduli memilih menjauh dari politik, maka siapa yang akan memperjuangkan masa depan bangsa?
Karena itu, yang dibutuhkan bukan menjauhi politik, melainkan menghadirkan lebih banyak orang baik di dalamnya.
Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh mereka yang hanya mengkritik dari kejauhan, tetapi oleh mereka yang berani turun tangan memperbaiki keadaan.
