MATERI TARBIYAH-"Ibu, kan kujaga selalu pesanmu..."
Kalimat itu begitu sederhana, tetapi ketika seorang ibu telah tiada, ia
berubah menjadi doa yang dipenuhi air mata. Banyak anak yang baru
menyadari betapa berharganya nasihat seorang ibu ketika suara itu
tak lagi terdengar.
Sejak kita lahir, ibu adalah orang pertama yang mencintai kita tanpa
syarat. Ketika kita belum mampu berjalan, ia menggendong. Ketika
kita belum mampu berbicara, ia memahami tangisan kita. Ketika kita
sakit, ia rela tidak tidur semalaman. Ketika kita gagal, ia menjadi orang
pertama yang menguatkan. Ketika semua orang meragukan kita, ibu tetap percaya bahwa anaknya bisa bangkit. Begitulah cinta seorang
ibu. Cinta yang tidak meminta balasan.
Ironisnya, ketika ibu mulai menua, justru banyak anak yang mulai
sibuk dengan dunianya sendiri. Allah Ta'ala mengingatkan:
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua
orang tua..." (QS. Al-Isra': 23).
Perhatikan urutannya, setelah perintah mentauhidkan Allah, langsung
disusul perintah berbakti kepada orang tua. Ini menunjukkan betapa agung kedudukan mereka.
Ada sebuah kenyataan yang sering membuat hati tersentuh.
Satu ibu mampu membesarkan banyak anak. Namun, banyak anak
terkadang merasa berat merawat satu ibu.
Dulu ibu membagi makanannya agar anak-anaknya kenyang. Kini, ada
ibu yang harus menunggu anak-anaknya untuk sekadar
mengantarnya berobat.
Dulu ibu rela berpanas-panasan berjualan demi biaya sekolah anaknya.
Kini, sebagian anak merasa terlalu sibuk hanya untuk menemani
ibunya berbincang beberapa menit.
Padahal Rasulullah saw menempatkan ibu pada kedudukan yang sangat mulia. Seorang pria datang kepada Rasulullah saw dan bertanya,
'Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk
aku perlakukan dengan baik?' Nabi saw menjawab, 'Ibumu.' Pria itu
bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi saw menjawab, 'Ibumu.' Pria
itu bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi saw menjawab, 'Ibumu.'
Pria itu bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi saw menjawab,
'Ayahmu.' " (HR. Bukhari No. 5971 dan Muslim No. 2548)
Mengapa sampai tiga kali?
Karena pengorbanan seorang ibu memang luar biasa. Mengandung dengan susah payah, melahirkan dengan taruhan nyawa, menyusui,
mendidik, mendoakan, dan terus memikirkan anaknya bahkan ketika
anak itu telah berkeluarga.
Maka jagalah ibu saat ia menjadi lemah.
Ada saatnya tangan yang dahulu menggendong kita mulai gemetar.
Langkahnya melambat.
Pendengarannya berkurang.
Ingatannya mulai melemah.
Di saat itulah Allah sedang menguji kita.
Apakah kita akan membalas kasih sayangnya?. Ataukah kita justru merasa kehadirannya menjadi beban?
"Janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah',
jangan membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra': 23)
ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]
1 | 2 Halaman Berikutnya
