🔴 UPDATE
Memuat berita terbaru...

Di Atas Makammu, Kujemput Kembali Pesan Terakhirmu

renungan seorang anak kepada ibu, menjaga PESANNYA

Ayat ini tidak hanya melarang membentak, bahkan mengucapkan kata yang menunjukkan kejengkelan pun dilarang. Mungkin ibu pernah menasehati kita dengan kata-kata menyakitkan. Namun renungkanlah....

Berapa banyak ibu yang memarahi anaknya karena ingin anaknya menjadi pemabuk? Berapa banyak ibu yang menginginkan anaknya menjadi pezina? Berapa banyak ibu yang bangga melihat anaknya terjerumus dalam penyimpangan seksual? Berapa banyak ibu yang bercita-cita anaknya menjadi koruptor? TIDAK ADA! 

Kalaupun ibu marah, biasanya karena ia takut anaknya salah jalan. Ia ingin anaknya menjaga salat. Ia ingin anaknya memiliki akhlak. Ia ingin anaknya jujur. Ia ingin anaknya hidup halal. Ia ingin anaknya menjadi manusia yang dicintai Allah. Mungkin cara penyampaiannya kurang tepat menurut kita. Namun, cintanya hampir selalu tulus. Karena itu, jangan hanya mendengar nada bicaranya. Dengarkan pula kasih sayang yang tersembunyi di balik setiap nasihatnya. Akhirnya, penyesalan selalu datang terlambat. Banyak anak baru menyesal ketika berdiri di samping kuburan ibunya.

Baru teringat panggilan yang tak sempat dijawab. Pesan yang diabaikan. Pelukan yang ditunda. Namun waktu tidak pernah kembali. Karena itu, selagi ibu masih ada, duduklah di sampingnya. Dengarkan ceritanya meskipun telah berulang. Gandeng tangannya, antarkan ke dokter. Belikan kebutuhannya, doakan setiap selesai salat.

Peluklah sebelum semuanya menjadi kenangan. Ibu, kan kujaga selalu pesanmu... Kelak, ketika ibu telah kembali kepada Allah, mungkin yang tersisa hanyalah kenangan dan doa. Tetapi ada satu cara agar cinta kepada ibu tidak pernah berhenti, yaitu menjaga semua pesan baik yang pernah ia titipkan. Menjaga salat karena ibu mengajarkannya. Menjaga kejujuran karena ibu membiasakannya. Menjaga kehormatan diri karena ibu selalu mengingatkannya. Menjauhi maksiat karena ibu tidak ingin melihat anaknya jauh dari Allah. Menjadi pribadi yang amanah karena ibu tidak ingin anaknya menjadi pengkhianat atau koruptor. 

Itulah hadiah terindah bagi seorang ibu. Bukan rumah mewah. Bukan kendaraan mahal. Tetapi melihat anaknya menjadi hamba Allah yang saleh. Maka, selagi ibu masih ada, bahagiakanlah ia. Dan bila ibu telah tiada, jangan biarkan nasihatnya ikut terkubur. Hidupkan pesan-pesannya dalam setiap langkah kehidupan. Sebab, anak yang paling mencintai ibunya bukanlah yang paling sering berkata, 

"Aku sayang Ibu," melainkan yang paling setia menjaga semua pesan baik yang pernah diajarkan ibunya hingga akhir hayatnya.

ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]

REPORTER DAN EDITOR PORTAL BERITA PKS: Hamzah Sidik | Agung Tazka | Toto Abi Ihsan
Lebih baru Lebih lama