MATERI TARBIYAH-Keikhlasan baru terlihat ketika tidak lagi mendapatkan panggung
Sering kali seseorang merasa dirinya telah ikhlas hanya karena ia memiliki niat yang baik. Ia beramal dengan semangat, membantu orang lain, mengajar, berdakwah, berkhidmat, bahkan mengorbankan waktu, tenaga, dan harta.
Namun sesungguhnya, keikhlasan tidak diukur ketika jalan masih lapang.
Keikhlasan baru benar-benar tampak ketika amal itu berbenturan dengan kepentingan diri.
- Saat engkau tidak lagi dipuji.
- Saat namamu tidak lagi disebut.
- Saat hasil jerih payahmu dinikmati orang lain.
- Saat keberhasilan disandarkan kepada orang yang dahulu engkau bina.
"Sudah berapa banyak amal yang telah aku lakukan?"
Tetapi,
"Untuk siapa sebenarnya amal itu aku lakukan?"
Makna Ikhlas Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
"Ikhlas adalah memurnikan amal dari segala noda, sehingga tidak ada yang dicintai karenanya selain Allah dan tidak ada tujuan selain-Nya."
Kalimat yang singkat ini mengandung makna yang sangat dalam. Sebab seseorang bisa saja membersihkan amalnya dari riya yang tampak, tetapi masih tersisa keinginan halus agar dirinya dihargai, dikenang, dipuji, atau dianggap berjasa.
Noda itu sangat tipis, bahkan terkadang tidak disadari oleh pemiliknya sendiri.
Kisah Seorang Guru Al-Qur'an
Bayangkan seorang guru yang bertahun-tahun mengajarkan Al-Qur'an kepada murid-muridnya.
Ia mengajar dengan penuh kesabaran.
Mengulang bacaan muridnya setiap hari.
Membimbing makhraj, tajwid, dan adab membaca Al-Qur'an.
Di dalam hatinya ia berkata,
"Ya Allah, aku tidak menginginkan apa pun selain ridha-Mu."
Hari demi hari berlalu. Salah seorang muridnya tumbuh menjadi qari yang indah bacaannya. Ia mulai sering diundang menjadi imam shalat. Diminta membaca Al-Qur'an di berbagai majelis.
Banyak orang memujinya. Mereka berkata,
"Masya Allah... bacaannya begitu indah. Bahkan lebih merdu daripada gurunya."
Di sinilah ujian itu datang. Saat Allah Menguji Keikhlasan. Kini sang guru tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Namanya mulai dilupakan. Orang-orang mengenal muridnya, tetapi tidak mengenal siapa yang dahulu membimbingnya.
Apa yang terjadi di dalam hatinya?
Apabila dadanya terasa sempit...
Apabila muncul rasa iri...
Apabila ia kecewa karena jasanya tidak disebut.
Maka saat itulah Allah memperlihatkan bahwa ternyata masih ada bagian dari amal itu yang diperuntukkan bagi dirinya sendiri.
Mungkin hanya sehelai benang yang sangat tipis. Namun benang itulah yang sedang Allah bersihkan. Tanda Keikhlasan yang Sesungguhnya.
Sebaliknya, apabila sang guru justru merasa bahagia melihat muridnya melampaui dirinya.
Apabila lisannya berdoa,
"Ya Allah, berkahilah ilmu yang Engkau titipkan kepadanya. Tinggikan derajatnya dengan Al-Qur'an. Jadikan ia lebih baik dariku, karena yang aku inginkan hanyalah tersebarnya hidayah-Mu."
ditulis oleh
[/Ust. Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Lc]
1 | 2 halaman berikutnya
