🔴 UPDATE
Memuat berita terbaru...

Jangan Paksa Orang Berubah, Allah yang Membolak-Balikkan Hati

ilustrasi, seorang dai yang kecewa karena dakwahnya di tolak

PARENTING - ADA kalanya kita merasa sangat tahu apa yang terbaik untuk hidup orang lain. Kita ingin mengatur siapa yang harus ia nikahi. Pekerjaan apa yang harus ia pilih. Di mana ia harus tinggal. Bagaimana ia harus mendidik anak. Bahkan bagaimana ia harus menjalani hidupnya.

Padahal, kita bukan Allah yang berhak mengatur hidup orang lain.
“Dan Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaffat: 96)

Setiap manusia memiliki perjalanan hidup, ujian, kemampuan, kesempatan, dan takdir yang berbeda. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah untuk dirinya.

  • Memberi nasihat adalah kebaikan.
  • Mengingatkan adalah bentuk kasih sayang.
  • Mencegah kemungkaran adalah kewajiban ketika kita mampu.
Tetapi memaksakan kehendak seolah-olah kita paling tahu masa depan seseorang adalah perkara yang berbeda.

Nahnu du'at laa qudhot (Kita mengajak, bukan menghakimi)
  • Jangan sampai nasihat berubah menjadi kendali.
  • Jangan sampai perhatian berubah menjadi intervensi.
  • Jangan sampai rasa sayang berubah menjadi keinginan menguasai.
Tugas kita adalah menyampaikan kebenaran dengan hikmah, bukan mengambil alih kendali kehidupan orang lain. Bahkan Rasulullah saw-pun diperintah Allah untuk :
“Sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 21–22)

Betapa indahnya ayat ini.
  • Kita boleh mengajak, tetapi tidak memaksa.
  • Kita boleh menasihati, tetapi tidak menguasai.
  • Kita boleh menunjukkan jalan, tetapi tidak menentukan setiap langkah orang lain.
Sebab hidayah milik Allah. Takdir milik Allah. Dan pengaturan kehidupan manusia pada akhirnya adalah hak Allah Ta'ala.

Kadang-kadang bentuk cinta yang paling dewasa bukan memegang erat kehidupan seseorang, tetapi mendoakannya sambil memberi ruang agar ia belajar, memilih, dan bertanggung jawab atas pilihannya dengan segala resikonya, baik resiko di dunia maupun di akhirat.

Orang tua tidak selamanya bisa mengatur anak. Suami tidak boleh merasa menjadi pemilik mutlak istrinya. Istri juga tidak boleh merasa berhak mengendalikan seluruh kehidupan suaminya.

Guru, sahabat, saudara, dan siapa pun kita—semuanya memiliki batas.
  • Biasakanlah menasihati tanpa menguasai.
  • Peduli tanpa mencampuri secara berlebihan.
  • Mencintai tanpa merasa menjadi Tuhan atas kehidupan orang lain.
Nahnu du'at laa qudhot (Kita mengajak, bukan menghakimi)
Karena ketika kita mulai merasa bahwa orang lain harus hidup persis seperti yang kita inginkan, mungkin kita sedang lupa: Kita ini hamba. Bukan Tuhan.

Maka jangan mengambil hak Allah untuk mengatur kehidupan seseorang. Salah satu bentuk ketundukan kita kepada Allah adalah menyadari bahwa tidak semua kehidupan manusia harus berada di bawah kendali kita.

ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]

REPORTER DAN EDITOR PORTAL BERITA PKS: Hamzah Sidik | Agung Tazka | Toto Abi Ihsan
Lebih baru Lebih lama