RENUNGAN TARBIYAH - ADA orang yang sepanjang hidupnya sibuk memikirkan bagaimana menambah harta. Bangun tidur memikirkan pekerjaan. Siang mengejar target. Malam menghitung keuntungan. Hari-harinya habis untuk mencari sesuatu yang sebenarnya sudah dijamin oleh Allah: rezeki.
Bukan berarti mencari nafkah itu salah. Islam justru memerintahkan kita bekerja, berikhtiar, dan mencari rezeki yang halal. Tetapi jangan sampai seluruh tenaga, pikiran, dan umur kita habis hanya untuk membangun kesejahteraan diri sendiri.
Sebab ada pekerjaan yang jauh lebih besar nilainya daripada sekadar mengumpulkan harta, yaitu MEMBANGUN MANUSIA. Mendidik mereka. Membina mereka. Menguatkan iman mereka. Mengajak mereka mencintai Allah. Membantu mereka menemukan arah hidup. Membentuk generasi yang baik. Itulah DAKWAH DAN PEMBINAAN.
Harta yang kita kumpulkan mungkin hanya dinikmati selama kita hidup. Tetapi manusia yang kita bina bisa menjadi sumber kebaikan yang terus mengalir, bahkan setelah kita meninggal dunia.
Bayangkan jika karena dakwah kita, seseorang menjadi berjiwa pemimpin. Karena pembinaan kita, seorang pemuda meninggalkan maksiat. Karena nasihat kita, sebuah keluarga kembali dekat dengan Allah. Karena perhatian kita, seorang anak tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat.
Bukankah membangun satu manusia jauh lebih berharga daripada sekadar menambah satu angka di rekening?. Yang menarik, ketika kita sibuk membangun manusia karena Allah, kita sebenarnya sedang menjalankan sebuah janji Allah.
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)
Maksud ayat ini adalah ketika kita menolong agama Allah dengan memperjuangkan kebenaran, mengajak kepada kebaikan, membina manusia, dan menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan, maka Allah akan menolong dan meneguhkan kedudukan kita.
Maka pertanyaannya sederhana:
- Tidakkah engkau yakin dengan janji Allah tersebut?
- Kalau yakin, mengapa kita tak punya waktu untuk menolong agama Allah (berdakwah)?
- Kalau yakin, mengapa kita tak sungguh-sungguh membina orang lain?
- Kalau yakin, mengapa kita khawatir harta kita berkurang ketika digunakan untuk perjuangan di jalan Allah?
Jika Allah mengatakan, “Aku akan menolongmu,” mengapa kita masih merasa bahwa rezeki kita akan lancar jika kita mengandalkan kekuatan kita sendiri?. Lalu sebenarnya...dengan janji siapa kita mengandalkan kesejahteraan hidup kita?
- Dengan janji manusia yang bisa berubah?
- Dengan janji perusahaan yang bisa bangkrut?
- Dengan janji investasi yang bisa merugi?
- Ataukah dengan janji Allah yang tidak pernah mengingkari janji?
Maka tetaplah berusaha, tetapi jangan habiskan waktu kita hanya untuk mencari uang. Bekerjalah, tetapi jangan lupa ikut serta dalam proyek besar membangun sumber daya manusia. Berusahalah meningkatkan kesejahteraan keluarga, tetapi jangan lupa meningkatkan kualitas umat.
- Punyalah waktu untuk berdakwah.
- Milikilah tenaga untuk pembinaan.
- Sisihkan perhatian untuk mendidik orang-orang di sekitar kita.
Karena boleh jadi, rezeki yang selama ini kita cari dengan berlari ke sana kemari, justru Allah datangkan ketika kita mulai sibuk menolong agama-Nya. Dan boleh jadi, kesejahteraan terbesar bukanlah ketika harta kita semakin banyak. Tetapi ketika semakin banyak manusia yang menjadi baik karena Allah memberi kita kesempatan untuk membinanya.
Maka jangan hanya bertanya:
“Berapa banyak harta yang berhasil saya kumpulkan?”
Tanyakan juga:
“Berapa banyak manusia yang menjadi lebih dekat kepada Allah karena kehadiran saya?”
Sebab harta akan kita tinggalkan. Tetapi manusia yang kita bina akan meneruskan kebaikan kita. Dan ketika kita memilih sibuk membangun manusia karena Allah, yakinlah...kita sedang bekerja dengan janji Allah.
“Jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
Jadi kata kuncinya "yakin", bukan "ragu". Semakin yakin, semakin terbukti janji Allah. Dan ini sudah dibuktikan oleh para da'i sepanjang sejarah peradaban manusia.
ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]
