🔴 UPDATE
Memuat berita terbaru...

Bukan Banyaknya Ilmu, Tapi Besarnya Rasa Takut kepada Allah

ilustrasi seorang ulama, yang takut kepada Allah SWT

MATERI TARBIYAH - BANYAK orang mengira bahwa ukuran ilmu adalah banyaknya gelar, luasnya wawasan, atau tingginya kecerdasan. Padahal Al-Qur'an memberikan ukuran yang berbeda. Ukuran utama orang berilmu bukanlah seberapa banyak yang ia ketahui, tetapi seberapa besar rasa takutnya kepada Allah.

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama." (QS. Fathir: 28)

Ayat ini tidak berarti setiap orang yang bergelar ulama pasti takut kepada Allah. Maksudnya, rasa takut yang benar kepada Allah mestinya lahir dari ilmu yang benar. Semakin seseorang mengenal Allah, memahami ayat-ayat-Nya, dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya, semakin tunduk dan takutlah hatinya kepada-Nya.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling takut kepada-Nya. Karena mereka mengetahui keagungan, kekuasaan, kesempurnaan, dan keadilan-Nya. Ilmu yang benar melahirkan kekhusyukan, bukan kesombongan.

Karena itu, Islam tidak pernah mengajarkan untuk memusuhi akal. Justru akal adalah salah satu nikmat terbesar dari Allah. Dengan akal, manusia berpikir, meneliti, menemukan ilmu pengetahuan, dan membangun peradaban.

Namun Islam juga mengajarkan bahwa akal bukanlah tuhan. Sebab akal memiliki batas. Ia hanya mampu menjangkau apa yang dapat diindra, dihitung, diamati, dan dianalisis. Sementara ada banyak hakikat yang berada di luar jangkauan akal manusia, seperti perkara gaib, hakikat ruh, kehidupan setelah mati, misteri alam semesta yang sangat luas dan hikmah Allah yang tidak selalu dapat dipahami saat ini.

Di sinilah letak kekeliruan
sebagian paham ateisme. Mereka menjadikan akal sebagai hakim tertinggi. Sesuatu dianggap benar hanya jika dapat dipahami sepenuhnya oleh akal. Padahal akal manusia sendiri terbatas, sering keliru, bahkan para ilmuwan pun terus merevisi teori-teori yang dahulu dianggap pasti.

Bagaimana mungkin sesuatu yang terbatas dijadikan ukuran mutlak bagi seluruh kebenaran? Seorang mukmin menggunakan akalnya semaksimal mungkin, tetapi tidak mengagungkan akalnya di atas wahyu. Akal dipakai untuk memahami ayat-ayat Allah, bukan untuk menghakimi Allah Ta'ala. Ketika akal telah sampai pada batas kemampuannya, iman melanjutkan perjalanan.

Inilah hakikat ilmu dalam Islam. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia menyadari betapa sedikit yang diketahuinya dibanding ilmu Allah. Semakin luas pengetahuannya, semakin besar rasa takzimnya kepada Sang Pencipta.

Ilmu yang tidak melahirkan ketundukan bisa berubah menjadi kesombongan. Sebaliknya, ilmu yang benar akan melahirkan rasa takut kepada Allah, kerendahan hati, dan ketaatan. Maka, jika ingin mengukur diri apakah ilmu kita bertambah, jangan hanya bertanya, "Sudah berapa banyak yang saya ketahui?" Tetapi bertanyalah, "Apakah hati saya semakin takut kepada Allah? Apakah saya semakin taat kepada-Nya?" Karena itulah ukuran ilmu yang sesungguhnya.

ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]

REPORTER DAN EDITOR PORTAL BERITA PKS: Hamzah Sidik | Agung Tazka | Toto Abi Ihsan
Lebih baru Lebih lama