MATERI TARBIYAH - KADANG kita berdoa dengan penuh keyakinan: “Ya Allah, kabulkanlah.” Kita menengadahkan tangan, menyebut harapan yang paling dalam, lalu menunggu dengan hati yang berharap. Namun ketika doa belum juga terkabul, perlahan hati mulai gelisah. Harapan berubah menjadi kecewa. Bahkan tanpa sadar, muncul protes yang kita sembunyikan di dalam dada:
“Kenapa Allah belum mengabulkan doaku?”
“Bukankah aku sudah lama berdoa?”
“Bukankah aku sudah berusaha dan bersabar?”
Padahal, Allah bukan pesuruh kita. Jangan sampai tanpa sadar kita menjadikan doa seperti daftar perintah kepada Allah Ta'ala. Kita meminta, lalu merasa Allah harus memberikan sesuai keinginan kita. Kita berharap, lalu merasa Allah wajib mengikuti waktu dan skenario yang telah kita susun.
Kita sering lupa, kita hanya melihat apa yang ada di depan mata, sementara Allah mengetahui seluruh jalan yang akan kita lalui.
Bayangkan jika semua doa kita selalu dikabulkan. Mungkin kita akan semakin terbiasa menganggap Allah harus mengikuti kemauan kita. Ketika meminta sesuatu, harus diberikan. Ketika ingin sesuatu terjadi, harus terjadi. Ketika menginginkan seseorang tetap tinggal, ia tidak boleh pergi. Ketika menginginkan sebuah jalan terbuka, tidak boleh ada pintu yang tertutup.
Akhirnya, tanpa sadar, kita bukan lagi hamba yang tunduk kepada Allah, tetapi seperti tuan yang menyuruh Allah. Padahal Allah adalah Rabb. Kita adalah hamba.
Allah berhak mengatur, menguji, menunda, memberi, bahkan mengambil kembali apa yang Dia titipkan kepada kita. Tidak ada satu pun keputusan-Nya yang lahir dari kesia-siaan. Bahkan di balik sesuatu yang membuat kita menangis, bisa jadi ada kasih sayang Allah yang belum mampu kita pahami. Allah berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Qashash: 68)
Karena itu, jangan kecewa ketika doa belum dikabulkan. Bisa jadi Allah sedang menunda karena waktunya belum tepat. Bisa jadi Allah sedang mempersiapkan hati kita agar mampu menerima apa yang kita minta. Bisa jadi Allah menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik yang tidak kita ketahui. Bisa jadi Allah sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak kita pahami. Dan bisa jadi, doa itu sedang menjadi jalan agar kita lebih sering menangis di hadapan-Nya, lebih lama bersujud, dan lebih dekat kepada-Nya.
Rasulullah saw mengingatkan bahwa doa seorang mukmin tidak pernah sia-sia. Beliau bersabda:
“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan suatu doa, kecuali Allah akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga hal: doanya segera dikabulkan, atau disimpan untuknya di akhirat, atau keburukan yang semisal dengannya dihindarkan darinya.” (HR. Ahmad)
Maka tidak ada doa yang sia-sia. Tidak ada air mata yang terbuang percuma. Tidak ada permohonan yang luput dari pendengaran Allah. Jika bukan dalam bentuk yang kita minta, Allah akan memberikannya dalam bentuk yang lebih kita butuhkan. Jika bukan di dunia, mungkin Allah menyimpannya sebagai kebahagiaan yang sempurna di akhirat. Dan yang paling penting, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita satu hal: Bahwa kita adalah hamba, bukan pengatur Tuhan.
Jangan pernah menguji Tuhan atas Kasih Sayang dan Kemahakuasaannya. Allah yang berhak menguji hamba-Nya. Tetapi hamba tidak berhak menguji Tuhan. Allah SWT berfirman:
“Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya: 23)
Maka teruslah berdoa.
Teruslah berharap.
Teruslah mengetuk pintu langit, meski berkali-kali jawaban belum juga datang.
Tetapi jangan memaksa Allah mengikuti skenario kita. Jangan mengira bahwa doa yang belum terkabul berarti Allah tidak mendengar. Jangan menganggap penundaan sebagai penolakan. Bisa jadi, Allah sedang menulis jawaban yang lebih indah daripada apa yang mampu kita bayangkan. Sebab doa bukan cara untuk membuat Allah memenuhi apa yang kita mau. Doa adalah cara agar kita semakin dekat dan tunduk kepada apa yang Allah mau.
Jika dikabulkan, bersyukurlah.
Jika ditunda, bersabarlah.
Jika tidak diberikan, tetaplah percaya kepada hikmah-Nya.
Sebab Allah Ta'ala tidak memberikan apa yang kita minta karena Dia sedang menjaga kita dari luka yang belum sanggup kita tanggung. Terkadang, Dia menutup satu pintu karena di baliknya ada bahaya yang tidak kita lihat. Dan terkadang, Dia mengambil sesuatu dari tangan kita agar tangan itu kembali terangkat untuk memohon hanya kepada-Nya.
Ketahuilah... seorang hamba sejati bukan hanya bahagia ketika mendapatkan apa yang dimintanya. Ia juga tetap tenang dan beriman kepada Allah ketika mendapatkan apa yang tidak dimintanya.
ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]
t.me/satriahadilubis
