Ilustrasi seseorang yang acuh dengan kegiatan politik
PENDIDIKAN POLITIK - Bagi sebagian muslim, politik dianggap sebagai dunia yang kotor: penuh perebutan kekuasaan, konflik, fitnah, dan kepentingan. Karena itu, ada yang memilih menjauh sejauh-jauhnya.
Memang, tidak ada kewajiban bagi setiap muslim untuk menjadi politisi. Tidak semua orang harus masuk partai politik, menjadi calon legislatif, atau menduduki jabatan di pemerintahan. Tetapi seorang muslim tidak boleh BUTA POLITIK
Mengapa? Karena politik berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Kebijakan politik dapat menentukan pendidikan, ekonomi, hukum, keamanan, kebebasan beribadah, kesejahteraan rakyat, bahkan nasib orang-orang yang lemah.
Seorang muslim boleh tidak terjun ke politik praktis, tetapi ia tetap perlu memahami politik, mengikuti perkembangan kebijakan publik, mengenali persoalan masyarakat, dan menggunakan hak politiknya secara bertanggung jawab.
Islam mengajarkan kepedulian terhadap kemaslahatan manusia. Kekuasaan bukan sekadar jabatan, tetapi amanah. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)
Oleh karena itu, seorang muslim perlu mengetahui siapa yang memegang amanah, bagaimana kebijakan dibuat, apakah hukum ditegakkan secara adil, apakah korupsi diperangi, apakah rakyat mendapatkan haknya, dan apakah orang-orang lemah mendapatkan perlindungan.
Buta politik berbeda dengan tidak menjadi politisi. Tidak menjadi politisi adalah pilihan profesi atau jalan perjuangan. Sedangkan buta politik adalah ketika seseorang sama sekali tidak mau mengetahui persoalan yang menyangkut kehidupan masyarakat, padahal dampaknya juga akan mengenai dirinya, keluarganya dan umat.
Kita tidak harus menjadi pemain politik untuk memahami permainan politik. Kita tidak harus menjadi anggota partai untuk mengetahui kebijakan partai. Kita tidak harus menjadi pejabat untuk peduli terhadap kebijakan pemerintah. Dan kita tidak harus memiliki jabatan untuk memperjuangkan keadilan.
Seorang muslim justru harus memiliki kesadaran politik agar tidak mudah dimanfaatkan, dibohongi, diadu domba, dijadikan alat money politic atau dijadikan sekadar alat untuk kepentingan orang lain.
Namun, melek politik juga bukan berarti menjadi fanatik politik. Ada orang yang awalnya ingin memperjuangkan umat, tetapi akhirnya kehilangan objektivitas. Ketika tokoh yang disukainya salah, ia bela mati-matian. Ketika lawannya benar, ia tetap menolaknya. Padahal Islam memerintahkan keadilan.
Allah Ta'ala berfirman:
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma'idah: 8)
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma'idah: 8)
Maka seorang muslim yang melek politik seharusnya kritis tanpa menjadi sinis, tegas tanpa menjadi kasar, memiliki pilihan tanpa kehilangan objektivitas, dan membela kebenaran tanpa membabi buta. Ia tidak mudah percaya hoaks, tidak menyebarkan fitnah, tidak mengkultuskan tokoh, tidak menjual agama demi kepentingan politik, juga tidak apatis terhadap penderitaan masyarakat. Ia memahami bahwa politik adalah salah satu sarana untuk mengelola urusan masyarakat dan mewujudkan kemaslahatan.
Karena itu, seorang muslim tidak mesti menjadi politikus, tetapi tidak boleh buta politik. Tidak semua muslim harus berada di parlemen. Tidak semua harus menjadi pejabat. Tidak semua harus aktif dalam partai.
Ada yang berdakwah. Ada yang mendidik. Ada yang menjadi pengusaha. Ada yang menjadi akademisi. Ada yang menjadi profesional. Ada yang menjadi aktivis sosial. Namun semuanya tetap membutuhkan kesadaran politik, karena keputusan politik pada akhirnya bersentuhan dengan kehidupan semua orang. Yang lebih penting, kita perlu bukan sekadar muslim yang pandai berpolitik, tetapi muslim yang memahami politik dengan akhlak Islam.
Melek politik, tetapi jangan kehilangan akhlak. Peduli pada kekuasaan, tetapi jangan mengultuskan penguasa. Berbeda pilihan, tetapi jangan bermusuhan. Mengkritik kebijakan, tetapi jangan menyebarkan kebohongan. Mendukung seseorang, tetapi jangan membela kesalahannya. Sebab kekuasaan akan berakhir, jabatan akan ditinggalkan, dan semua kepentingan dunia akan selesai. Pada akhirnya, setiap amanah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Jangan menjadi muslim yang buta politik. Tetapi jangan pula menjadi muslim yang kehilangan Islam karena politik. Melek politik, dan tetap melek akhirat.
ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]
