MATERI TARBIYAH - DI ANTARA hadits yang paling menggetarkan hati adalah kisah tentang shalat malam Rasulullah saw. Beliau berdiri begitu lama dalam qiyamul lail hingga kedua kaki beliau bengkak.
Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata: "Nabi saw biasa melaksanakan shalat malam hingga kedua telapak kaki beliau bengkak. Aku berkata,
'Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?' Beliau menjawab, Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kalimat Rasulullah saw itu sangat singkat, tetapi mengandung lautan hikmah. Beliau tidak mengatakan, "Aku shalat karena takut neraka." Beliau tidak mengatakan, "Aku shalat karena ingin surga." Beliau juga tidak mengatakan, "Aku shalat karena ingin dipuji sebagai orang saleh." Beliau justru berkata,
"Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?"
Inilah puncak ibadah. Ketika seseorang beribadah bukan sekadar karena kewajiban, tetapi karena rasa syukur yang melimpah kepada Rabb yang telah memberinya segala nikmat.
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dianjurkannya memperbanyak ibadah sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah, meskipun dosa telah diampuni. Orang yang paling banyak menerima nikmat, seharusnya menjadi orang yang paling banyak bersyukur.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani rahimahullah juga menjelaskan bahwa syukur bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi diwujudkan dengan amal ketaatan. Semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula penghambaan kepada Allah.
Sedangkan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan bahwa hakikat syukur adalah mengakui nikmat berasal dari Allah, memuji-Nya dengan lisan, lalu menggunakan nikmat itu dalam ketaatan kepada-Nya.
Karena itu, syukur bukan sekadar mengucapkan "Alhamdulillah". Syukur adalah shalat yang lebih khusyuk. Sedekah yang lebih ikhlas. Dakwah yang lebih semangat. Membina yang lebih banyak. Akhlak yang lebih baik. Amanah yang lebih dijaga. Dan kerja yang lebih profesional karena ingin membalas nikmat Allah dengan ketaatan.
Allah SWT sendiri telah memberikan janji yang sangat agung:
"Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepada kalian." (QS. Ibrahim: 7)
Perhatikan kata yang Allah gunakan: "pasti". Bukan mungkin. Bukan barangkali. Tetapi sebuah janji dari Rabb Yang Maha Benar.
Tambahan nikmat itu bisa berupa ketenangan hati, keluarga yang harmonis, kesehatan, ilmu yang bermanfaat, sahabat yang saleh, keberkahan waktu, dimudahkan beribadah, hingga kelapangan rezeki dan harta.
Namun sering kali manusia ingin semuanya serba cepat. Hari ini bersedekah, besok ingin kaya. Hari ini rajin tahajud, lusa ingin semua masalah selesai. Padahal Allah mendidik hamba-Nya dengan proses.
Kadang lambat menurut hitungan manusia, tetapi selalu tepat menurut hikmah Allah. Yang Allah lihat bukan hanya hasil, tetapi keyakinan hamba-Nya. Karena itu, yakin adalah kata kuncinya. Yakin bahwa tidak ada satu sujud pun yang sia-sia.
- Yakin bahwa tidak ada sedekah yang hilang.
- Yakin bahwa tidak ada doa yang diabaikan.
- Yakin bahwa setiap amal saleh sedang Allah simpan sebagai sebab datangnya berbagai kenikmatan, baik yang kita sadari maupun yang belum kita lihat.
Mungkin hari ini belum tampak.
Mungkin bulan depan belum berubah.
Bahkan mungkin bertahun-tahun terasa biasa saja.
Tetapi ketika kita menoleh ke belakang, kita akan menyadari betapa banyak nikmat yang ternyata telah Allah tambahkan sedikit demi sedikit. Rezeki menjadi lebih lapang. Hati lebih tenang. Keluarga lebih hangat. Urusan lebih mudah. Pertolongan Allah datang pada saat yang paling tepat.
Ketahuilah....janji Allah tidak pernah gagal.
Karena itu, jangan lelah menjadi hamba yang bersyukur.
Karena itu, jangan lelah menjadi hamba yang bersyukur.
Jangan menunggu kaya untuk bersyukur, tetapi bersyukurlah agar Allah memberkahi kekayaan.
Jangan menunggu bahagia untuk taat, tetapi taatlah agar Allah menghadiahkan kebahagiaan.
Jangan menunggu semua doa terkabul baru bersujud, tetapi bersujudlah karena Allah telah memberikan begitu banyak nikmat yang bahkan tidak mampu kita hitung.
Maka mulai hari ini, lakukan ibadah, amal sholih dan dakwah bukan sekadar menjalankan perintah Allah SWT. Jadikan ia sebagai ungkapan cinta kepada-Nya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Jadikan ia sebagai rasa terima kasih atas berbagai nikmat tak terhitung yang telah Allah berikan.
Jadikan ia sebagai taubat karena selama ini mungkin kita lebih banyak mengeluh daripada bersyukur.
Lalu ucapkan dalam hati :
"Ya Allah... tidak bolehkah aku menjadi hamba-Mu yang bersyukur?"
ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]
