ilustrasi seorang fakir miskin yang jauh dari iman
MATERI TARBIYAH-BANYAK orang takut hidup dalam kemiskinan dan kesulitan ekonomi. Mereka khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga, menyekolahkan anak, atau menjalani hidup dengan layak. Kekhawatiran itu manusiawi. Islam pun menganjurkan umatnya untuk bekerja keras, berikhtiar, dan mencari rezeki yang halal.
Namun ada satu hal yang harus selalu diingat: kemiskinan tidak selalu identik dengan kemuliaan. Ada kalanya kemiskinan justru berubah menjadi azab bagi orang yang mengalaminya.
Mengapa demikian?
Karena dalam Islam, kemiskinan atau kekurangan harta juga merupakan ujian. Ia bisa mengangkat derajat seseorang hingga menjadi penghuni surga apabila dihadapi dengan iman, sabar, dan syukur. Namun kemiskinan (kekurangan harta) juga dapat menyeret seseorang kepada keputusasaan, kemaksiatan, bahkan menjauh dari Allah.
Yang menentukan bukan sedikitnya harta, tetapi bagaimana kemiskinan dan kekurangan harta mempengaruhi hati dan perilaku seseorang.
Sayangnya, banyak orang baru menyadari bahwa kemiskinannya telah berubah menjadi azab ketika iman mulai terkikis dan dosa semakin bertambah.
Ciri-ciri ketika kemiskinan dan kekurangan harta (uang) mulai menjadi azab:
1. Semakin Miskin, Semakin Jauh dari Allah
Kesulitan ekonomi malah membuat pelakunya meninggalkan shalat. Doa mulai jarang dipanjatkan. Majelis ilmu (liqo') ditinggalkan karena terlalu sibuk mencari nafkah.
Padahal justru di saat sempit, seorang mukmin paling membutuhkan pertolongan Allah.
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat." (QS. Al-Baqarah: 45)
2. Kesulitan Ekonomi Mendorong Mencari Rezeki yang Haram.
Karena merasa terdesak, seseorang mulai berbohong, menipu, korupsi, mencuri, menerima suap, atau terjerumus riba. Kesulitan hidup dijadikan alasan untuk melanggar syariat. Padahal rezeki yang haram tidak akan pernah membawa keberkahan.
3. Hati Dipenuhi Keluh Kesah dan Putus Asa.
Setiap hari mengeluh. Merasa Allah tidak adil. Menyalahkan keadaan dan orang tua. Kehilangan harapan terhadap masa depan.
Padahal Allah SWT berfirman:
"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Az-Zumar: 53)
4. Muncul Rasa Dengki kepada Orang Lain.
Sulit melihat orang lain berhasil. Tidak senang melihat saudara mendapat nikmat. Hati dipenuhi iri dan kebencian. Padahal dengki hanya akan membakar pahala sebagaimana api membakar kayu kering.
5. Keluarga Menjadi Korban.
Kesulitan ekonomi memicu pertengkaran. Suami istri saling menyalahkan. Anak-anak kehilangan kasih sayang karena orang tua sibuk memikirkan beban hidup. Bukan kemiskinannya yang menghancurkan keluarga, tetapi cara menyikapinya.
6. Tidak Mau Berusaha dan Menyalahkan Takdir.
Kemiskinan dijadikan alasan untuk bermalas-malasan. Enggan belajar. Tidak mau meningkatkan keterampilan. Selalu menyalahkan keadaan dan takdir.
Padahal Rasulullah saw bersabda:
"Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Islam mengajarkan tawakal setelah ikhtiar, bukan tawakal tanpa usaha.
7. Amal Tidak Bertambah di Tengah Kesempitan.
Kesulitan ekonomi membuat seseorang berhenti berbuat baik. Merasa tidak mampu bersedekah, padahal senyum, tenaga, ilmu, doa, dan akhlak yang baik juga merupakan sedekah.
Kemiskinan dan kekurangan harta tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti beramal.
Lalu bagaimana agar kemiskinan atau kesulitan ekonomi tidak menjadi azab?
Kuncinya adalah menjadikan kesulitan ekonomi sebagai jalan mendekat kepada Allah, bukan alasan untuk menjauh dari-Nya. Dengan memperbanyak sabar dan doa. Terus bekerja dan berikhtiar dengan cara yang halal. Jaga shalat dan hubungan dengan Allah serta mensyukuri nikmat dari Allah Ta'ala sekecil apa pun.
Hindari iri hati dan tetap berbuat baik kepada sesama. Yakinlah bahwa rezeki Allah tak akan tertukar, sementara usaha dan doa adalah bentuk ketaatan kepada-Nya.
Rasulullah saw bahkan berdoa agar dilindungi dari kefakiran, sebagaimana beliau berlindung dari kekafiran. Hal ini menunjukkan bahwa kemiskinan bisa menjadi ujian yang berat apabila tidak disertai keimanan.
Pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukanlah banyak atau sedikitnya harta yang kita miliki, tetapi kokohnya iman ketika Allah menguji kita.
Kemiskinan dan kesulitan ekonomi yang melahirkan kesabaran adalah jalan menuju kemuliaan. Namun kemiskinan yang melahirkan keputusasaan, kedengkian, kemalasan, dan kemaksiatan dapat berubah menjadi azab yang menggerogoti hati, bahkan sebelum datangnya azab di sebenarnya di akhirat.
Maka jangan hanya berdoa,
"Ya Allah, berilah aku rezeki yang banyak."
Tetapi berdoalah,
"Ya Allah, jadikanlah apa pun keadaan yang Engkau berikan sebagai jalan yang semakin mendekatkanku kepada-Mu."
Sebab orang yang paling kaya bukanlah yang memiliki harta paling banyak, dan orang yang paling miskin bukanlah yang memiliki harta paling sedikit. Yang paling beruntung adalah mereka yang tetap menjaga iman, baik ketika lapang maupun ketika sempit.
ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]
