MATERI TARBIYAH - SEBAGIAN besar manusia memimpikan hidup berkecukupan. Mereka bekerja keras, mengembangkan usaha, mengejar karier, dan berusaha meningkatkan penghasilan agar kehidupan menjadi lebih nyaman.
Tidak ada yang salah dengan hal itu. Islam tidak pernah melarang umatnya menjadi kaya. Bahkan banyak sahabat Rasulullah saw yang termasuk orang-orang kaya yang mulia.
Namun ada satu hal yang harus selalu diingat: kekayaan tidak selalu identik dengan keberkahan. Ada kalanya harta yang melimpah justru berubah menjadi azab bagi pemiliknya.
Mengapa demikian?
Karena dalam Islam, harta bukan hanya nikmat, tetapi juga ujian.
Allah SWT berfirman:
"Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah)." (QS. Al-Anfal: 28)
"Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah)." (QS. Al-Anfal: 28)
Sebagai ujian, kekayaan bisa mengangkat derajat seseorang hingga menjadi penghuni surga. Namun kekayaan juga bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kelalaian dan kebinasaan. Yang menentukan bukan banyaknya harta, tetapi bagaimana harta itu mempengaruhi hati dan perilaku pemiliknya.
Sayangnya, banyak orang baru menyadari bahwa kekayaannya telah berubah menjadi azab ketika semuanya sudah terlambat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini.
Ciri-ciri ketika kekayaan mulai menjadi azab :
1. Semakin Kaya, Semakin Jauh dari Allah
Dulu rajin shalat berjamaah, sekarang terlalu sibuk. Dulu rutin membaca Al-Qur'an, sekarang hampir tidak pernah.
Dulu aktif menghadiri majelis ilmu (liqo'), sekarang semua waktunya habis untuk urusan bisnis dan pekerjaan.
Padahal Allah SWT mengingatkan:
"Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah." (QS. Al-Munafiqun: 9)
2. Semakin Kaya, Semakin Berat Bersedekah
Pengeluaran untuk gaya hidup terus bertambah, tetapi sedekah justru semakin berkurang. Mudah membeli barang mewah, tetapi sulit membantu dakwah, masjid, pendidikan Islam, atau kaum dhuafa.
3. Hidup Dipenuhi Kecemasan
Tidak pernah merasa aman. Takut rugi, takut kehilangan aset, takut usaha menurun, takut tersaingi. Harta yang seharusnya menjadi alat hidup justru berubah menjadi sumber kegelisahan.
4. Muncul Kesombongan
Merasa sukses karena kemampuan sendiri. Sulit menerima nasihat. Meremehkan orang lain. Merasa lebih hebat karena jabatan atau kekayaannya.
Merasa sukses karena kemampuan sendiri. Sulit menerima nasihat. Meremehkan orang lain. Merasa lebih hebat karena jabatan atau kekayaannya.
Inilah penyakit yang pernah menimpa Qarun hingga Allah membinasakannya.
5. Keluarga Menjadi Korban
Penghasilan naik, tetapi kebersamaan menurun. Rumah semakin besar, tetapi kehangatan semakin hilang. Anak-anak terpenuhi kebutuhan materinya, tetapi kekurangan perhatian dan pendidikan iman.
6. Tidak Pernah Merasa Cukup
Target dunia terus bertambah tanpa batas. Satu miliar ingin lima miliar. Lima miliar ingin sepuluh miliar. Tidak ada rasa syukur dan kepuasan.
Rasulullah saw bersabda:
"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kaya hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
7. Amal Tidak Bertambah Seiring Bertambahnya Harta
Kekayaan meningkat pesat, tetapi sedekah, wakaf, dakwah, dan amal jariyah tetap kecil. Padahal semestinya semakin besar nikmat, semakin besar pula kontribusi kebaikan yang diberikan.
Lalu bagaimana agar kekayaan tidak menjadi azab?. Kuncinya adalah menjadikan harta sebagai sarana, bukan tujuan.
Allah SWT berfirman:
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qashash: 77)
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qashash: 77)
Perhatikan urutannya. Allah mendahulukan akhirat, kemudian dunia. Inilah cara pandang seorang mukmin.
Karena itu:
- Jadikan kekayaan sebagai alat mendekat kepada Allah.
- Tetapkan target sedekah dan amal jariyah.
- Perbanyak syukur.
- Gunakan harta untuk membantu sesama.
- Dukung dakwah dan pendidikan Islam.
- Jangan biarkan kesibukan dunia mengalahkan ibadah dan dakwah.
Ketika meninggal dunia, seluruh harta akan tertinggal. Yang ikut bersama kita hanyalah amal. Maka jangan hanya bertanya: "Berapa banyak harta yang sudah saya kumpulkan?" Tetapi bertanyalah: "Berapa banyak harta yang sudah saya ubah menjadi pahala?"
Sebab kekayaan yang mendekatkan kita kepada Allah adalah nikmat. Namun kekayaan yang membuat kita lalai dari-Nya adalah azab yang paling halus dan paling tidak disadari oleh manusia.
ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]
