MATERI TARBIYAH - SEBAGIAN manusia menduga bahwa tujuan hidup adalah membahagiakan diri sendiri. Mereka bekerja keras agar memiliki harta, jabatan, rumah yang nyaman, dan kehidupan yang serba berkecukupan.
Semua itu memang boleh diusahakan, tetapi Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan tertinggi bukan ketika kita menerima, melainkan ketika kita memberikan kebahagiaan kepada orang lain.
Seorang muslim tidak boleh hidup hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri. Kehadirannya seharusnya membawa manfaat, ketenangan, dan harapan bagi orang-orang di sekitarnya. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin besar pula manfaat yang ia berikan kepada sesama.
Rasulullah saw bersabda:
"Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. ath-Thabrani, dinilai hasan oleh sejumlah ulama)
"Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. ath-Thabrani, dinilai hasan oleh sejumlah ulama)
Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seorang hamba bukan hanya banyaknya ibadah pribadi, tetapi juga besarnya manfaat yang dirasakan orang lain melalui dirinya.
Allah juga menjelaskan misi diutusnya Rasulullah saw dan umatnya:
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107)
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini bukan hanya menggambarkan sifat Rasulullah saw, tetapi juga menunjukkan karakter yang harus diwarisi oleh umatnya.
Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad saw sebagai rahmat bagi seluruh makhluk. Siapa yang menerima risalah beliau akan memperoleh rahmat di dunia dan akhirat. Bahkan bagi yang menolak, diangkat dari mereka azab yang membinasakan secara menyeluruh seperti yang menimpa umat-umat terdahulu.
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa rahmat Rasulullah saw tampak pada seluruh ajarannya. Syariat Islam membawa kemudahan, keadilan, kasih sayang, perlindungan terhadap jiwa, harta, akal, kehormatan, dan agama manusia. Karena itu, seorang muslim yang mengikuti Rasulullah saw semestinya menjadi sumber rahmat (kebahagiaan), bukan sumber kerusakan.
Syekh Abdurrahman As-Sa'di juga menjelaskan bahwa seluruh ajaran Nabi saw adalah rahmat. Ilmu yang beliau ajarkan adalah rahmat, akhlaknya adalah rahmat, dakwahnya adalah rahmat, bahkan hukum-hukum syariat pun pada hakikatnya merupakan rahmat bagi manusia.
Karena itu, semakin seseorang meneladani Rasulullah saw, semakin besar pula manfaat yang ia berikan kepada orang lain.
Membahagiakan orang lain bukan berarti selalu memberi uang. Ada banyak cara yang sering kali lebih bernilai, seperti perhatian kepada orang tua, menghormati pasangan, mendidik anak dengan penuh kasih, menghibur orang yang sedang bersedih, membantu tetangga, mendoakan saudara tanpa sepengetahuannya, memaafkan kesalahan, mengajarkan ilmu, atau sekadar menghadirkan senyum yang tulus.
Yang perlu diingat, membahagiakan orang lain tidak boleh dilakukan dengan melanggar syariat. Kita tidak boleh menyenangkan manusia dengan cara yang dimurkai Allah. Seorang mukmin selalu menjadikan ridho Allah sebagai tujuan utama.
Jika Allah ridho, maka kebahagiaan yang kita tebarkan akan menjadi ibadah. Ironisnya, orang yang hanya sibuk mengejar kesenangan untuk dirinya sendiri sering kali tidak pernah merasa puas. Ia justru menjauhi kebahagiaan.
Sebaliknya, orang yang menjadikan hidupnya bermanfaat bagi sesama justru merasakan kebahagiaan yang sulit dibeli dengan harta. Allah memenuhi hatinya dengan ketenangan karena ia telah menjadi jalan datangnya kebahagiaan bagi orang lain.
Maka mulailah dari lingkungan terdekat. Jadilah rahmat di rumahmu, di tempat kerjamu, di masjidmu, di lingkungan masyarakatmu, dan di mana pun Allah menempatkanmu. Setiap malam, cobalah bertanya kepada diri sendiri:
"Hari ini, siapa yang lebih tenang, lebih kuat, atau lebih bahagia karena kehadiranku?"
Jika setiap muslim hidup dengan semangat ini, niscaya ia sedang mewarisi salah satu misi terbesar Rasulullah saw: menjadi rahmat bagi semesta alam.
ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]
