🔴 UPDATE
Memuat berita terbaru...

TANGISAN TAUBAT YANG BERULANG

Ilustrasi tangis dalam taubat

RENUNGAN IMAN- 
Tangisan yang Allah Tidak Pernah Bosan Mendengarnya
MALAM kembali turun.
Semesta perlahan sunyi.
Lampu-lampu mulai dipadamkan.
Satu demi satu manusia terlelap dalam tidurnya.
Namun di sebuah sudut kamar, ada seorang hamba yang kembali menangis.
Tangisnya bukan karena miskin.

Bukan karena sakit.
Bukan karena kehilangan orang yang dicintai.
Ia menangis karena ketakutan akan dosa yang sama...
Dosa yang telah berkali-kali ia sesali.
Dosa yang telah berkali-kali ia janjikan untuk ditinggalkan.
Namun entah mengapa, ia kembali jatuh.

Dengan wajah yang dipenuhi rasa malu, ia mengangkat kedua tangannya.
"Ya Allah... aku datang lagi..."
Kalimat itu begitu berat.
Karena ia sadar, ini bukan pertama kalinya.
Bahkan mungkin bukan yang keseratus kalinya.
Lalu setan datang berbisik:

"Masih berani mengangkat tangan? Bukankah engkau sudah berkali-kali mengingkari janji kepada Allah? Bukankah taubatmu hanya sandiwara?"
Betapa banyak manusia yang akhirnya percaya kepada bisikan itu.
Mereka berhenti berdoa.
Berhenti menangis.
Berhenti berharap.

Padahal itulah kemenangan terbesar yang diinginkan setan.
Bukan ketika kita berdosa.
Tetapi ketika kita berputus asa dari rahmat Allah.

Padahal Allah berfirman:
"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa." (QS. Az-Zumar: 53).

Perhatikanlah...
Yang Allah larang bukan hanya berbuat dosa.
Tetapi juga berputus asa.
Karena putus asa adalah pintu menuju kebinasaan.
Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw menceritakan tentang seorang hamba yang terus mengulangi dosanya.

Setiap kali ia berdosa, ia berkata,
"Ya Rabb, ampunilah dosaku."
Allah mengampuninya.
Tapi ia jatuh lagi.
Dan Allah mengampuninya lagi.
Ia jatuh lagi.
Allah kembali mengampuninya.

Bukan karena Allah menyukai dosanya.
Tetapi karena Allah mencintai hati yang terus kembali.
Selama penyesalan itu masih hidup...
Selama rasa takut kepada Allah masih ada...
Selama istighfar masih terucap...
Pintu itu belum ditutup.

Para salaf tidak pernah merasa aman dengan amal mereka. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata:

"Seorang mukmin menggabungkan antara amal yang baik dengan rasa takut. Sedangkan orang munafik menggabungkan antara amal yang buruk dengan rasa aman."

Mereka takut amalnya ditolak.
Mereka menangisi dosa yang mungkin bagi kita terlihat kecil.
Padahal mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan Allah.
Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah, seorang ulama besar yang dahulu pernah menjadi perampok, menghabiskan banyak malamnya dengan tangisan. Beliau pernah berkata,

"Celakalah engkau, wahai Fudhail. Betapa banyak dosamu, sementara ajalmu semakin dekat."

Lihatlah...
Seorang wali Allah masih menangisi dosanya.
Sebenarnya ada yang lebih mengerikan daripada sering berdosa.
Yaitu ketika hati sudah tidak lagi mampu menangis.
Ketika dosa dilakukan tanpa rasa bersalah.
Maksiat dianggap biasa.

Shalat ditinggalkan tanpa penyesalan.
Al-Qur'an berdebu tanpa kerinduan.
Istighfar terasa asing di lisan.
Saat itulah hati mulai mengeras.

Padahal hati yang keras lebih berbahaya daripada tubuh yang sakit.
Karena tubuh yang sakit hanya mengancam kehidupan dunia.
Sedangkan hati yang mati mengancam kehidupan akhirat.

Ingatlah...
Allah SWT tidak pernah bosan menerima orang yang pulang.
Kitalah yang sering bosan untuk kembali.
Jangan bangga dengan dosa yang berhasil disembunyikan.
Karena yang menutup aibmu bukan kepintaranmu.
Tetapi karena kasih sayang Allah.

Bayangkan...
Berapa banyak dosa yang seandainya Allah tampakkan kepada manusia, mungkin kita tidak sanggup lagi mengangkat kepala.
Namun Allah menutupinya.
Masih memberi rezeki.
Masih memberi kesehatan.
Masih membuka pintu masjid.
Masih memberi kesempatan untuk bersujud.
Bukankah itu berarti Allah masih memanggil kita untuk pulang?

Suatu hari nanti...
Air mata akan berhenti mengalir.
Bukan karena hati telah tenang.
Tetapi karena ajal telah datang.
Saat itu, taubat tidak lagi diterima.
Yang tersisa hanyalah penyesalan.

Karena itu, selama napas masih berembus...
Selama pintu taubat masih terbuka...
Jangan pernah malu datang kepada Allah.
Datanglah dengan hati yang takut.
Dengan dosa yang diakui.
Dengan harapan yang besar.

Sebab Allah tidak pernah meminta kita datang dengan kesempurnaan.
Allah meminta kita datang dengan ketulusan.
Maka jika malam ini engkau kembali menangis karena dosa yang sama...
Jangan katakan,

"Aku sudah terlalu kotor untuk kembali."
Katakanlah,

"Ya Allah... aku memang terlalu kotor. Karena itu aku sangat membutuhkan ampunan-Mu."
Semoga tangisan taubat yang berulang di dunia menjadi saksi bahwa kita tidak pernah menyerah untuk kembali kepada Allah.

Semoga tangisan penyesalan yang berulang di dunia menjadi sebab kita tidak perlu menangis karena penyesalan di akhirat.

"Ya Allah, jangan biarkan kami meninggalkan dunia ini sebelum Engkau mengampuni dosa-dosa kami. Jadikan akhir hidup kami sebagai akhir yang baik, husnul khotimah; dan pertemukan kami dengan-Mu dalam keadaan Engkau telah ridho kepada kami."

ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]


REPORTER DAN EDITOR PORTAL BERITA PKS: Hamzah Sidik | Agung Tazka | Toto Abi Ihsan
Lebih baru Lebih lama