Rasulullah saw bersabda:
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi dan lainnya; hadis hasan)
Hadis ini sejalan dengan firman Allah SWT:
"Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna." (QS. 23 ayat 3)
Jadi kualitas keislaman seseorang tidak hanya terlihat dari banyaknya ibadah yang ia lakukan, tetapi juga dari kemampuannya mengendalikan diri dari hal-hal yang sia-sia.
Muslim yang baik belajar bertanya kepada dirinya sebelum berbicara atau bertindak: “Apakah ini bermanfaat? Apakah ini mendekatkan saya kepada Allah? Apakah ini membawa kebaikan bagi diri saya atau orang lain?”
Ciri-ciri seorang muslim yang mampu meninggalkan hal yang tidak bermanfaat antara lain:
Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat bukan berarti seorang muslim menjadi pasif atau tidak peduli terhadap kehidupan. Justru sebaliknya, ia belajar menempatkan perhatian pada hal yang benar-benar penting.
- Tidak suka ikut campur urusan orang lain yang bukan menjadi tanggung jawabnya.
- Menjaga lisannya, terutama dari gosip, ghibah, fitnah, celaan, dan perdebatan yang tidak menghasilkan kebaikan.
- Tidak merasa harus berkomentar tentang segala sesuatu, termasuk perkara yang tidak ia pahami.
- Mampu meninggalkan perdebatan, meskipun ia merasa dirinya benar, apabila perdebatan tersebut hanya menimbulkan permusuhan.
- Tidak sibuk mencari-cari kesalahan dan aib orang lain.
- Tidak menghabiskan waktu dengan percakapan, tontonan, game, scroll medsos atau aktivitas lainnya yang tidak memberi nilai bagi kehidupan.
- Tidak mudah terpancing oleh berita, provokasi, dan persoalan yang sebenarnya tidak berkaitan dengan dirinya.
- Menjaga pikirannya dari terlalu banyak memikirkan sesuatu yang tidak perlu.
- Tidak larut dalam khayalan dan kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi.
- Lebih suka mengerjakan sesuatu yang jelas manfaatnya daripada sekadar menyibukkan diri.
- Menghargai waktu, karena menyadari bahwa umur adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan.
- Memilih lingkungan dan percakapan yang baik, karena apa yang sering didengar dan dibicarakan akan memengaruhi hati.
- Lebih banyak memperbaiki diri daripada menilai orang lain.
Ia peduli terhadap keluarga, masyarakat, umat, dan lingkungan. Ia peduli terhadap kebaikan dan keadilan. Namun ia tidak membiarkan kepeduliannya berubah menjadi kesibukan mengurusi sesuatu yang bukan tanggung jawabnya.
Betapa banyak waktu yang habis hanya karena kita ingin mengetahui urusan orang lain. Betapa banyak energi terkuras karena membalas komentar. Betapa banyak persahabatan rusak karena perkataan yang sebenarnya tidak perlu diucapkan. Karena itu, salah satu bentuk kecerdasan seorang muslim adalah mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam, kapan harus bertindak dan kapan harus meninggalkan.
Rasulullah saw bersabda :
“Bersungguh-sungguhlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa lemah.” (HR. Muslim)
Maka, jangan habiskan umurmu untuk mengejar sesuatu yang tidak memberi manfaat. Gunakan waktu untuk memperbaiki iman, memperbanyak ilmu, beribadah, berdakwah dan membina, bekerja dengan baik, membahagiakan keluarga, membantu sesama, dan melakukan amal yang membawa keberkahan.
Semakin baik Islam seseorang, semakin ia mampu meninggalkan kesia-siaan. Semakin ia meninggalkan yang tidak bermanfaat, semakin banyak waktunya untuk mengejar kebaikan.
Fokuslah pada yang bermanfaat. Tinggalkan yang sia-sia, karena umur terlalu berharga untuk dihabiskan pada sesuatu yang tidak membawa pahala untuk bekal kita di akhirat kelak.
ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]
