MATERI TARBIYAH - SETELAH berhari-hari sibuk bekerja, mengejar target, menghadiri rapat, mengajar, mengurus keluarga, dan menyelesaikan berbagai urusan, akhirnya datanglah hari libur.
Hari libur adalah hari ketika kita memiliki sedikit lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Ada yang menggunakannya untuk olahraga. Ada yang pergi jalan-jalan. Ada yang menikmati kuliner, staycation, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar beristirahat di rumah.
Hari libur adalah hari ketika kita memiliki sedikit lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Ada yang menggunakannya untuk olahraga. Ada yang pergi jalan-jalan. Ada yang menikmati kuliner, staycation, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar beristirahat di rumah.
Semua itu tentu boleh. Tubuh perlu istirahat. Pikiran juga perlu penyegaran. Tetapi ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri: Mengapa kita bisa rutin menyediakan waktu untuk menjaga kesehatan jasmani, tetapi sulit menyediakan waktu untuk menjaga kesehatan iman dan ilmu?
Mengapa kita bisa konsisten melakukan aktivitas yang kita sukai, tetapi untuk duduk satu atau dua jam di majelis ta’lim atau liqo sering kali terasa berat? Padahal tubuh akan kembali lelah, makanan akan kembali lapar, liburan akan berakhir, dan kesenangan dunia akan berlalu. Sementara ilmu yang kita pelajari tentang Allah, Rasul-Nya, Al-Qur'an, ibadah, akhlak, keluarga, dan kehidupan seorang muslim akan menjadi bekal yang kita bawa sepanjang hidup.
Salah satu masalah besar umat Islam bukan karena jumlah umatnya sedikit. Bukan pula karena umat Islam tidak memiliki potensi. Salah satu persoalannya adalah kurangnya pemahaman terhadap Islam yang benar, utuh, dan mendalam.
Ketika ilmu agama tidak dipelajari secara rutin, pemahaman Islam mudah menjadi sepotong-sepotong. Kita mengenal Islam dari potongan ceramah, media sosial, kutipan pendek, atau informasi yang lewat begitu saja.
Padahal agama membutuhkan proses belajar. Kita tidak menjadi ahli dalam pekerjaan hanya dengan membaca satu-dua artikel. Kita juga tidak menjadi profesional hanya dengan menonton beberapa video.
Begitu pula dengan Islam. Iman perlu dipelihara. Ilmu perlu ditambah. Akhlak perlu dilatih. Amal perlu dievaluasi. Karena itu, majelis ta’lim dan liqo bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Ia merupakan salah satu sarana penting untuk menjaga kesinambungan belajar, memperbaiki diri, dan membangun lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan.
Rasulullah saw bersabda:
“Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Hadits ini menandaskan bahwa menuntut ilmu agama itu hukumnya wajib, sedangkan bentuk dan sarana belajarnya dapat beragam. Yang penting dilaksanakan secara rutin. Jangan sampai kehidupan kita sangat teratur dalam urusan dunia, tetapi tidak rutin dalam menuntut ilmu dan membina iman.
Mengapa harus rutin? Sebab perubahan diri biasanya tidak lahir dari satu kali mendengar nasihat. Ia lahir dari proses yang berulang.
- Kita mendengar ilmu, kemudian mengamalkannya.
- Kita melakukan kesalahan, lalu diingatkan.
- Kita mulai lalai, kemudian dibangunkan kembali.
- Kita kehilangan semangat, lalu dikuatkan oleh saudara-saudara kita.
Ustadz jadi tahu perkembangan peserta. Peserta juga dapat memahami arah pembelajaran. Dan materi dapat disusun secara bertahap. Pertanyaan dan persoalan juga dapat dibahas secara berkelanjutan. Hubungan antarpeserta juga menjadi lebih dekat sehingga lahir kepedulian, ukhuwah, dan semangat saling membantu.
Seperti olahraga yang dilakukan secara rutin bersama pelatih yang sama, pembinaan keislaman juga akan lebih mudah berkembang ketika dilakukan secara teratur bersama pembimbing yang sama dan terpercaya.
Yang perlu dijaga adalah sikap terbuka dan rendah hati. Mengikuti satu majelis secara rutin bukan berarti menolak majelis yang lain. Mengikuti satu ustadz tidak berarti merendahkan ustadz yang lain. Umat Islam memiliki banyak ulama, banyak lembaga, banyak komunitas, dan banyak jalan kebaikan. Kita tidak perlu membesarkan diri dengan mengecilkan kontribusi saudara kita dari kelompok yang lain.
Lalu, apa hasil mengikuti majelis ta’lim atau liqo? Hasilnya bukan sekadar bertambahnya catatan. Bukan sekadar ketenangan batin. Bukan sekadar rutin hadir.
Majelis ta’lim atau liqo yang baik seharusnya melahirkan perubahan.
- Dari tidak tahu menjadi tahu.
- Dari tahu menjadi paham.
- Dari paham menjadi amal.
- Dari amal pribadi menjadi kepedulian sosial.
- Dari sendiri-sendiri menjadi kerja bersama dalam kebaikan.
Di sinilah pentingnya majelis ta'lim atau liqo. Kita bisa bekerja bersama dalam kebaikan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat. Kita belajar bahwa kebaikan akan menjadi lebih kuat ketika dikerjakan bersama.
Jadi, mari kita jadikan hari libur sebagai hari mengikuti majelis ta’lim atau liqo. Jangan hanya dijadikan hari bersenang-senang dan liburan duniawi.
Mari kita mulai dari hal sederhana.
Tetapkan satu waktu.
Datang secara rutin.
Belajar kepada pembimbing yang terpercaya.
Bersahabat dengan orang-orang saleh.
Amalkan ilmu.
Dan ikut mengambil bagian dalam kebaikan bersama. Sebab mungkin yang kita sebut sebagai “hari libur” sebenarnya adalah hari luang yang Allah SWT berikan agar kita memiliki kesempatan memperbaiki diri.
Jangan hanya pulang dari hari libur dengan tubuh yang lebih segar. Pulanglah juga dengan iman yang lebih kuat, ilmu yang lebih bertambah, amal yang lebih baik, dan semangat yang lebih besar untuk berkontribusi bagi umat.
ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]
