🔴 UPDATE
Memuat berita terbaru...

Kunci Mewujudkan Keluarga Sakinah yang Dirindukan Surga

ilustrasi keluarga sakinah

MATERI TARBIYAH - KELUARGA adalah tempat pertama kita belajar tentang cinta, kesabaran, tanggung jawab, dan pengorbanan. Karena itu, membangun keluarga sakinah menjadi tanggung jawab setiap pasangan dan setiap anggota keluarga.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang tidak pernah memiliki masalah. Tidak ada keluarga yang selalu berjalan mulus. Keluarga sakinah adalah keluarga yang ketika menghadapi masalah, memilih untuk saling memahami, saling menguatkan, dan kembali kepada Allah.

Ada beberapa prinsip yang penting untuk kita jaga:
Pertama, jadikan pernikahan sebagai ibadah dan amanah. Pernikahan bukan sekadar hidup bersama, tetapi perjalanan untuk saling membantu menjadi manusia yang lebih baik. Suami dan istri bukanlah dua orang yang selalu harus menang dalam perdebatan, tetapi dua orang yang belajar berjalan bersama menuju ridha Allah.

Kedua, bangun komunikasi yang terbuka dan penuh kasih sayang.
Banyak masalah keluarga bukan karena tidak ada cinta, tetapi karena kurang komunikasi. Belajar mengungkapkan perasaan, mendengarkan tanpa menghakimi, dan membicarakan masalah sebelum menjadi lebih besar.

Terkadang pasangan tidak membutuhkan nasihat panjang. Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Ketiga, belajar saling menghargai.
Perbedaan karakter, kebiasaan, cara berpikir, dan latar belakang adalah sesuatu yang wajar dalam keluarga. Jangan memaksakan pasangan untuk menjadi seperti diri kita.  Belajarlah menghargai perbedaan dan mencari titik temu. Sebab rumah tangga bukan tempat untuk mencari siapa yang paling benar, tetapi tempat untuk belajar menjadi lebih dewasa bersama-sama.

Keempat, jangan menjadikan kemarahan sebagai cara menyelesaikan masalah.
Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan suara keras. Tidak semua kesalahan harus diungkit kembali.

Allah SWT memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan:
“...orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan adalah memilih untuk tidak membiarkan kesalahan menghancurkan hubungan.

Kelima, hadir untuk keluarga.
Kehadiran bukan hanya soal berada di rumah secara fisik. Hadir berarti mau mendengarkan cerita pasangan, bermain bersama anak, makan bersama, membantu ketika ada kesulitan, dan memberikan perhatian ketika anggota keluarga sedang membutuhkan kita. Jangan sampai kita begitu baik kepada orang lain, tetapi justru keluarga di rumah mendapatkan versi diri kita yang paling mudah marah dan paling tidak sabar.


ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]

REPORTER DAN EDITOR PORTAL BERITA PKS: Hamzah Sidik | Agung Tazka | Toto Abi Ihsan
Lebih baru Lebih lama