MATERI TARBIYAH - DAKWAH bukan sekadar menyampaikan apa yang benar, tetapi juga bagaimana membuat kebenaran itu diterima, dipahami, dan diamalkan. Karena itu, seorang dai perlu memahami manusia dengan segala kebutuhan dan persoalannya.
Salah satu teori yang dapat membantu memahami manusia adalah hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Dalam teori ini, kebutuhan manusia digambarkan bertingkat: kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri.
Tentu saja, teori Maslow bukan teori Islam dan tidak boleh dijadikan sebagai ukuran mutlak tentang manusia. Namun, beberapa gagasannya dapat menjadi alat bantu dalam strategi dakwah, selama tetap ditempatkan di bawah pandangan Islam tentang manusia.
1. Kebutuhan Fisiologis: Dakwah yang memperhatikan kebutuhan dasar
Manusia membutuhkan makanan, minuman, istirahat, tempat tinggal, dan kesehatan. Orang yang lapar atau berada dalam kesulitan ekonomi sering kali membutuhkan pertolongan nyata sebelum mampu menerima nasihat yang panjang.
Islam sendiri sangat memperhatikan kebutuhan dasar manusia. Allah SWT berfirman:
“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini, yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Quraisy: 3–4)
Rasulullah saw juga bersabda:
“Bukanlah seorang mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad; dinilai hasan oleh sejumlah ulama)
Karena itu, dakwah tidak selalu berbentuk ceramah. Memberi makan orang lapar, membantu orang miskin, menyediakan lapangan pekerjaan, memberikan beasiswa, atau membantu korban bencana juga merupakan bagian dari dakwah bil-hal.
Jangan sampai kita sibuk mengajak orang menuju masjid, sementara kebutuhan hidupnya tidak pernah kita pedulikan.
2. Kebutuhan Keamanan: Dakwah yang memberikan rasa aman
Manusia membutuhkan rasa aman secara fisik, sosial, dan psikologis. Orang yang hidup dalam ketakutan, konflik, tekanan, atau ketidakpastian akan sulit berkembang secara optimal.
Islam datang membawa ketenangan dan keamanan. Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28)
Rasulullah saw bersabda:
“Seorang muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini memberikan pelajaran penting bagi dai: jangan membuat orang merasa semakin takut kepada manusia ketika kita sedang mengajaknya takut kepada Allah. Dakwah harus tegas terhadap kemaksiatan, tetapi tetap menghadirkan harapan, kasih sayang, dan jalan keluar.
3. Kebutuhan Sosial: Dakwah dengan ukhuwah
Setelah kebutuhan dasar dan keamanan, manusia membutuhkan kasih sayang, persahabatan, keluarga, dan rasa menjadi bagian dari sebuah kelompok.
Islam memberikan perhatian besar terhadap kebutuhan ini melalui konsep ukhuwah Islamiyah. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Rasulullah saw juga menggambarkan orang-orang beriman sebagai satu tubuh:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka masjid, majelis taklim, halaqah, komunitas dakwah, dan keluarga muslim seharusnya bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga tempat seseorang merasa diterima dan memiliki saudara. Ada orang yang bertahan dalam kebaikan bukan semata-mata karena kuatnya argumentasi, tetapi karena ia menemukan lingkungan yang mencintainya karena Allah.
4. Kebutuhan Penghargaan: Menguatkan, bukan merendahkan
Manusia juga membutuhkan penghargaan dan pengakuan atas keberadaannya. Dalam dakwah, kebutuhan ini perlu diarahkan kepada sesuatu yang positif. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Islam mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukan karena jabatan, kekayaan, popularitas, atau status sosial, tetapi karena ketakwaan. Karena itu, seorang dai perlu belajar memberikan apresiasi. Ketika seorang pemuda mulai rajin ke masjid, apresiasi. Ketika seseorang mulai membaca Al-Qur'an, apresiasi. Ketika seorang yang dahulu jauh dari agama mulai belajar, jangan dicurigai terus-menerus.
Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Dakwah yang hanya pandai mengkritik tetapi tidak pernah memberikan penghargaan akan membuat sebagian orang merasa bahwa apa pun yang mereka lakukan tidak pernah cukup baik.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri: Mengembangkan potensi untuk Allah
Dalam teori Maslow, tingkat tertinggi adalah aktualisasi diri: manusia ingin mengembangkan potensi dan mencapai dirinya yang terbaik. Dalam Islam, konsep ini dapat diarahkan lebih tinggi lagi. Tujuan manusia bukan sekadar menjadi versi terbaik dari dirinya, tetapi menjadi hamba Allah yang terbaik dalam menjalankan amanahnya.
Allah SWT berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Seorang dokter dapat berdakwah melalui profesinya. Guru melalui ilmunya. Pengusaha melalui usahanya. Pejabat melalui kebijakannya. Orang tua melalui pendidikan keluarganya. Pemuda melalui kreativitas dan energinya.
Dakwah bukan membuat semua orang menjadi dai dalam bentuk yang sama. Dakwah adalah membantu setiap orang menemukan cara terbaik untuk berkontribusi di jalan Allah sesuai potensi yang dimilikinya.
Teori Maslow mengajarkan kepada kita bahwa manusia memiliki kebutuhan yang beragam. Islam mengajarkan sesuatu yang lebih mendalam: manusia bukan hanya makhluk yang membutuhkan kenyamanan dunia, tetapi juga hamba Allah yang membutuhkan petunjuk dan kehidupan akhirat.
Karena itu, pendekatan dakwah tidak seharusnya selalu sama. Orang yang sedang lapar membutuhkan makanan.
Orang yang sedang takut membutuhkan rasa aman. Orang yang kesepian membutuhkan persaudaraan. Orang yang kehilangan kepercayaan diri membutuhkan penghargaan. Orang yang memiliki potensi membutuhkan ruang untuk berkarya. Dan pada akhirnya, setiap manusia membutuhkan Allah. Inilah pentingnya dakwah yang memahami manusia.
Jangan hanya bertanya, “Apa yang ingin saya sampaikan?” Seorang dai juga perlu bertanya: “Apa yang sedang dibutuhkan orang yang saya dakwahi?”
Sebab Rasulullah saw tidak berdakwah dengan satu cara kepada semua orang. Beliau memperhatikan kondisi, karakter, kemampuan, dan kebutuhan orang yang dihadapinya. Allah SWT berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Dakwah yang bijak bukan hanya benar dalam isi, tetapi tepat dalam pendekatan. Maka, memahami kebutuhan manusia bukan berarti mengurangi nilai dakwah. Justru dengan memahami kebutuhan manusia, kita dapat menyampaikan nilai-nilai Islam dengan cara yang lebih menyentuh, relevan, dan berpeluang lebih besar untuk diamalkan.
Pada akhirnya, tujuan dakwah bukan sekadar membuat orang tahu tentang Islam, tetapi membantu manusia mencintai Islam, hidup dengan Islam, dan bersama-sama berjalan menuju ridha Allah SWT.
ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]
