MATERI TARBIYAH - ZALIM bukan hanya tentang melakukan kekerasan kepada orang lain. Zalim adalah segala bentuk tindakan yang melampaui batas, menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, atau merampas hak yang seharusnya dimiliki seseorang. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung.” (QS. Al-An'am: 21)
Kezaliman mungkin terlihat menang untuk sementara waktu. Orang yang zalim bisa saja memiliki kekuasaan, harta, jabatan, atau pengaruh. Bahkan terkadang orang yang dizalimi tampak tidak mampu berbuat apa-apa. Namun, jangan tertipu oleh keadaan sesaat. Keadilan Allah pasti datang. Rasulullah SAW mengingatkan:
"Takutlah kalian terhadap kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
APA SAJA BENTUK KEZALIMAN?
Pertama, zalim kepada Allah SWT.
Bentuk terbesar adalah menyekutukan Allah. Allah berfirman:
“Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)
Bentuk terbesar adalah menyekutukan Allah. Allah berfirman:
“Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)
Kedua, zalim kepada diri sendiri.
Misalnya melakukan maksiat, meninggalkan kewajiban, mengikuti hawa nafsu, atau terus-menerus melakukan dosa sehingga merusak kehidupan dunia dan akhiratnya.
Ketiga, zalim kepada orang lain.
Bentuknya sangat luas: mengambil hak orang lain, memfitnah, menipu, menghina, merendahkan, menyakiti, melakukan kekerasan, menyebarkan aib, mengkhianati amanah, berlaku tidak adil, hingga menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.
Termasuk pula kezaliman dalam keluarga, pekerjaan, organisasi, maupun masyarakat: orang tua yang tidak adil kepada anak, pasangan yang menyakiti pasangannya, atasan yang menghambat karir bawahannya, atau seseorang yang menggunakan kekuasaan untuk menekan orang yang lebih lemah.
Lalu apa ciri-ciri orang yang zalim?
Orang zalim biasanya tidak merasa dirinya zalim. Justru ia sering memiliki alasan untuk membenarkan tindakannya.
Di antara cirinya adalah meremehkan hak orang lain, mudah menyalahkan orang lain, sulit mengakui kesalahan, menggunakan kekuasaan untuk menekan, tidak amanah, suka merendahkan, dan merasa dirinya selalu benar.
Yang lebih berbahaya, ia bisa kehilangan rasa takut kepada Allah. Ketika seseorang berani melakukan kezaliman karena merasa tidak akan mendapatkan akibatnya, sesungguhnya ia sedang lupa bahwa Allah tidak pernah lalai.
“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim.” (QS. Ibrahim: 42)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak ada kezaliman yang benar-benar tersembunyi dari Allah. Karena itu, hukuman bagi orang yang zalim itu pasti.
Hukuman Allah tidak selalu datang dengan segera. Inilah yang terkadang membuat orang zalim merasa aman. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada orang yang zalim. Namun apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, jangan mengira orang yang berlaku zalim itu akan bebas dari hukuman hanya karena sampai hari ini ia belum mendapatkannya.
Ada hukuman yang datang di dunia, ada yang ditangguhkan sampai akhirat, dan bisa jadi seseorang diberi kesempatan untuk bertobat sebelum datangnya hukuman. Yang pasti, keadilan Allah tidak pernah salah alamat.
Bahkan doa orang yang dizalimi sangat perlu ditakuti. Nabi SAW bersabda:
“Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, jangan pernah merasa kuat hanya karena memiliki jabatan, kekuasaan, uang, atau banyak pendukung. Bisa jadi orang yang kita anggap lemah justru memiliki senjata doa yang langsung sampai kepada Allah.
Bagaimana agar kita terhindar dari kezaliman?
Pertama, perkuat iman dan rasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap perkataan dan perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban.
Kedua, belajar mengenali hak orang lain. Jangan hanya bertanya, “Apa hak saya?” tetapi tanyakan juga, “Apa hak orang lain yang harus saya tunaikan?”
Ketiga, jangan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Jabatan adalah amanah, bukan kesempatan untuk menindas dan memperturutkan hawa nafsu.
Keempat, biasakan mengakui kesalahan dan meminta maaf. Orang yang mau mengoreksi dirinya akan lebih sulit terjerumus dalam kezaliman.
Kelima, jaga lisan. Fitnah, penghinaan, tuduhan palsu, dan membuka aib orang lain juga dapat menjadi bentuk kezaliman.
Keenam, segera kembalikan hak orang lain. Jika pernah mengambil harta, merusak kehormatan, atau menyakiti seseorang, jangan hanya memohon ampun kepada Allah. Minta maaf kepada orang yang kita zalimi dan selesaikan urusannya.
Pada akhirnya, kehidupan ini bukan tentang siapa yang paling kuat menekan orang lain. Kehidupan ini adalah ujian tentang siapa yang mampu berlaku adil ketika memiliki kekuasaan. Jangan takut kehilangan keuntungan karena memilih untuk tidak zalim. Sebab yang kita tinggalkan karena Allah tidak akan sia-sia.
Orang zalim mungkin bisa menghindari hukuman manusia, tetapi ia tidak akan pernah bisa bersembunyi dari keadilan Allah. Maka sebelum menzalimi orang lain, ingatlah satu hal: mungkin orang yang kita sakiti tidak mampu membalas. Tetapi Allah mampu.
Dan sebelum menuntut keadilan dari orang lain, pastikan terlebih dahulu bahwa kita sendiri tidak sedang menjadi orang yang zalim.
ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]
