🔴 UPDATE
Memuat berita terbaru...

Tiga Rasa Bersalah yang Diam-Diam Menguasai Hidup Kita

ilustrasi seseorang yang merasa bersalah

MATERI TARBIYAH - RASA bersalah sering dianggap sebagai perasaan yang harus dihindari. Padahal, dalam kehidupan seorang muslim, rasa bersalah tidak selalu buruk. Justru, ia bisa menjadi tanda bahwa hati masih hidup.

Ketika kita berbuat salah lalu merasa menyesal
dan ingin memperbaiki diri, rasa bersalah dapat menjadi alarm bagi jiwa. Ia mengingatkan bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Tanpa rasa bersalah, seseorang bisa melakukan kesalahan berkali-kali tanpa merasa perlu berubah. Ia mudah menyakiti orang lain, melanggar hak orang lain, bahkan berbuat dosa tanpa merasa berdosa.
Namun, rasa bersalah juga perlu ditempatkan secara tepat. Karena itu, ada tiga macam rasa bersalah:

Pertama, rasa bersalah berlebihan.
Ini terjadi ketika seseorang terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri, bahkan untuk sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahannya. Kesalahan kecil dibesar-besarkan. Ia merasa dirinya buruk, tidak berguna, dan tidak pantas mendapatkan kebaikan.

Padahal, ia mungkin sudah meminta maaf, memperbaiki kesalahan, dan bertaubat, tetapi tetap menghukum dirinya sendiri.

Rasa bersalah seperti ini tidak lagi mendorong perbaikan, tetapi justru melemahkan dan dapat membuat seseorang berputus asa. Padahal Allah Ta'ala berfirman:

"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar: 53)

Jika salah, akui. Jika berdosa, bertaubat. Jika merugikan orang lain, minta maaf dan perbaiki. Setelah itu, jangan terus menjadikan kesalahan masa lalu sebagai hukuman seumur hidup.

Kedua, rasa bersalah berkekurangan.
Ini adalah keadaan ketika seseorang sangat sedikit memiliki rasa bersalah. Bahkan ketika jelas-jelas salah, ia tidak merasa bersalah dan justru menyalahkan orang lain.

Ketika menyakiti seseorang, ia berkata, “Dia sendiri yang membuat saya marah.” Ketika melakukan kesalahan, ia mencari alasan dan kambing hitam.

Orang seperti ini sulit melakukan introspeksi. Empatinya rendah, kepeduliannya kepada orang lain berkurang, dan ia mudah mengulangi kesalahan yang sama.

Islam mengajarkan kita untuk berani mengakui kesalahan. Nabi Adam as dan Hawa, misalnya, tidak menyalahkan pihak lain ketika melakukan kesalahan. Mereka berkata:

"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri..." (QS. Al-A'raf: 23)

Mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan. Justru, itu tanda kedewasaan dan kekuatan jiwa.

Ketiga, rasa bersalah yang tepat.
Inilah rasa bersalah yang sehat dan proporsional. Ia muncul karena memang ada kesalahan yang kita lakukan, tetapi tidak membuat kita berlebihan dalam menyalahkan diri sendiri.
Ciri-cirinya adalah ia mampu mengakui kesalahan, tidak mencari-cari alasan, mau meminta maaf, bertanggung jawab, memperbaiki kesalahan, dan belajar agar tidak mengulanginya.
Rasa bersalah yang tepat juga tidak membuat kita membenci diri sendiri. Kita menyadari bahwa perbuatan kita mungkin salah, tetapi kesalahan itu tidak otomatis menjadikan diri kita manusia yang sepenuhnya buruk.

Jika kesalahan berkaitan dengan Allah, kita bertaubat dan memohon ampun. Jika berkaitan dengan manusia, kita meminta maaf, mengembalikan hak, dan memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan.
Setelah kesalahan diperbaiki, kita juga belajar memaafkan diri dan kembali melangkah dengan penuh harapan kepada Allah.

Jadi, rasa bersalah yang tepat bukan sekadar membuat kita berkata, “Saya salah,” tetapi juga mendorong kita berkata, “Apa yang harus saya perbaiki?”

Hati yang sehat bukan hati yang tidak pernah merasa bersalah. Hati yang sehat adalah hati yang peka ketika salah, jujur mengakuinya, segera memperbaikinya, lalu mampu bangkit kembali dengan harapan kepada Allah.

Rasa bersalah yang tepat membuat kita takut berbuat salah, tetapi tidak putus asa; membuat kita rendah hati, tetapi tidak membenci diri sendiri.
Sebab tujuan rasa bersalah bukan untuk menenggelamkan kita di masa lalu, melainkan membawa kita kembali kepada Allah, memperbaiki hubungan dengan manusia, dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik.

ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]

REPORTER DAN EDITOR PORTAL BERITA PKS: Hamzah Sidik | Agung Tazka | Toto Abi Ihsan
Lebih baru Lebih lama