Keluarga yang kuat membutuhkan fondasi spiritual. Biasakan saling mengingatkan untuk shalat, membaca Al-Qur'an, berdoa, bersyukur, dan melakukan kebaikan. Ketika keluarga sama-sama memiliki hubungan yang baik dengan Allah, berbagai persoalan hidup akan lebih mudah dihadapi dengan sabar dan tawakal.
Ketujuh, jangan ukur kebahagiaan keluarga hanya dengan harta.
Harta memang penting, tetapi keluarga tidak hanya membutuhkan uang. Mereka juga membutuhkan waktu, perhatian, penghargaan, kasih sayang, keteladanan, dan rasa aman. Rumah yang sederhana bisa terasa sangat nyaman ketika di dalamnya ada cinta. Sebaliknya, rumah yang penuh kemewahan bisa terasa kosong jika kehilangan kasih sayang.
Kedelapan, jadikan rumah sebagai tempat untuk pulang, bukan tempat untuk saling menyerang.
Dunia di luar rumah sudah cukup melelahkan. Karena itu, jadikan rumah sebagai tempat untuk mendapatkan ketenangan.
- Tempat seseorang boleh merasa lelah tanpa dihakimi.
- Tempat seseorang bisa bercerita tanpa takut diremehkan.
- Tempat kesalahan bisa diperbaiki dengan kasih sayang.
- Tempat setiap anggota keluarga merasa diterima dan dicintai.
Kesembilan, tumbuhkan kebiasaan saling berterima kasih.
Jangan menganggap kebaikan pasangan sebagai sesuatu yang otomatis menjadi kewajibannya sehingga tidak perlu dihargai. Ucapkanlah: "Terima kasih.” "Maaf.” "Aku menghargaimu.” "Aku bersyukur bersamamu.”
Kalimat sederhana sering kali memiliki kekuatan besar untuk menjaga kehangatan rumah tangga.
Kesepuluh, jadikan keluarga sebagai tempat bertumbuh.
Keluarga bukan hanya tempat tinggal bersama, tetapi tempat setiap anggotanya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Suami bertumbuh. Istri bertumbuh. Anak-anak bertumbuh. Secara akal, emosional, spritual, fisikal, dan finansial. Saling mendukung untuk belajar, memperbaiki diri, mengejar cita-cita, dan menjadi manusia yang bermanfaat.
Pada akhirnya, keluarga sakinah bukan keluarga tanpa masalah. Keluarga sakinah adalah keluarga yang ketika masalah datang, mereka tidak mudah menyerah.
- Ketika marah, mereka belajar menahan diri.
- Ketika berbeda, mereka belajar memahami.
- Ketika salah, mereka berani meminta maaf.
- Ketika terluka, mereka belajar memaafkan.
- Ketika mendapatkan nikmat, mereka bersyukur.
- Dan ketika menghadapi kesulitan, mereka bersabar
Keluarga sakinah bukan tentang memiliki pasangan yang sempurna. Tetapi tentang dua orang yang sama-sama mau belajar menjadi pasangan yang lebih baik.
Sebab rumah yang paling indah bukanlah rumah yang paling besar, tetapi rumah yang di dalamnya ada iman, cinta, komunikasi, penghargaan, kesabaran, dan keberkahan. Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah; keluarga yang saling mencintai di dunia dan dipertemukan kembali dalam kebaikan di akhirat.
ditulis oleh
[/Satria Hadi Lubis]
Halaman 1 | 2 klik halaman sebelumnya
